Home Ekonomi BI: Perekonomian RI Diproyeksi Tumbuh Semakin Tinggi

BI: Perekonomian RI Diproyeksi Tumbuh Semakin Tinggi

0
SHARE
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo | Foto: istimewa

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan perekonomian Indonesia diproyeksi tumbuh semakin tinggi di tahun mendatang. Untuk tahun ini, perekonomian nasional mulai pulih.

Meski demikian, Agus menyebutkan perekonomian masih dihadapkan dengan tantangan baik secara global maupun domestik. “Masih akan dihadapkan pada tantangan,” ujar Agus di JCC, Jakarta, Selasa malam, (29/11)

Dari sisi global, Agus menjelaskan Indonesia perlu mewaspadai tren pengetatan kebijakan moneter di beberapa negara maju. Terutama kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan pengurangan aset neraca The Fed.

Selain itu, dari sisi geopolitik berupa ketegangan di Semenanjung Korea. Kondisi tersebut akan mempengaruhi dinamika pasar keuangan global dan arah pergerakan likuiditas dunia yang dapat menekan kenaikan tingkat suku bunga di negara berkembang.

Agus menambahkan, Indonesia juga perlu waspada dengan gejala proteksionisme. Kebijakan tersebut dapat mengganggu prospek kesinambungan pertumbuhan ekonomi global dan perdagangan internasional.

Pertumbuhan ekonomi dunia juga dihadapkan pada meningkatnya akumulasi kerentanan sistem keuangan global. Rendahnya volatilitas pasar keuangan internasional di tengah likuiditas global yang berlimpah telah mendorong perbaikan persepsi investor terhadap risiko investasi. Hal ini diikuti oleh meningkatnya harga aset pasar keuangan secara signifikan. Kerentanan juga bersumber dari kenaikan leverage perusahaan non keuangan yang diikuti kenaikan debt service ratio.

Menurut Agus, momentum pemulihan ekonomi global saat ini masih rentan dan berisiko temporer. Pasalnya, ekonomi lebih bertumpu pada stimulus kebijakan moneter dan fiskal yang ditempuh di berbagai negara, bukan karena perbaikan produktivitas.

Sementara dari sisi domestik, ekonomi dinilai belum cukup responsif terhadap membaiknya ekonomi global tahun ini. Agus Marto mengatakan peningkatan pertumbuhan ekonomi domestik sampai dengan kuartal III belum cukup kuat di tengah meratanya pemulihan ekonomi global dan tingginya harga komoditas serta volume perdagangan dunia.

Agus menjelaskan, struktur pertumbuhan ekonomi masih belum cukup solid di beberapa hal. Salah satunya, konsumsi rumah tangga sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi domestik masih terbatas. Selain itu, struktur pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung masih kurang optimal dalam mendukung penyerapan tenaga kerja. Keterbatasan penyerapan tenaga kerja turut berpengaruh kepada tertahannya perbaikan konsumsi rumah tangga.

Tantangan lainnya adalah terbatasnya pembiayaan domestik untuk membiayai proyek jangka menengah dan panjang. Dampaknya terjadi ketergantungan pembiayaan dari luar negeri. Porsi dana luar negeri yang besar berpotensi mengganggu stabilitas makroekonomi saat terjadi gejolak global.

Agus mengatakan perkembangan teknologi digital juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Tren tersebut di satu sisi menawarkan kemudahan, kecepatan, hingga mendorong model bisnis baru yang lebih efisien dan inovatif. Namun risiko yang ditimbulkannya juga kompleks.

Di sektor keuangan, teknologi digital menawarkan perluasan akses, kecepatan transaksi dan biaya yang murah. Namun, inovasi model bisnis dan teknologi digital juga mengubah fungsi konvensional, khususnya perbankan. Risiko di sektor keuangan juga akan semakin kompleks seperti risiko pencucian uang dan kemungkinan pendanaanterorisme, dan cyberthreat. Selain itu ada risiko pada aspek perlindungan konsumen serta risikosistemik yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan. (ENA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here