Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Selasa, 17 Juli 2018

 

 

Akibat Kebijakan Trump, Rupiah Terus Melemah

NG / Ekonomi / Sabtu, 10 Maret 2018, 23:02 WIB

Ilustrasi.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), ditutup melemah 9,69 poin di tengah minimnya sentimen positif yang beredar di pasar lokal. Kondisi ini bertolak belakang dengan sejumlah bursa utama Asia yang justru menunjukkan kinerja positif, khususnya terkait kabar undangan pertemuan dari presiden Korea Utara Kim Jong-un kepada presiden AS, Donald Trump.

Pada Jumat (9/3/2018) hari terakhir perdagangan pekan ini, IHSG BEI ditutup melemah 9,69 poin atau 0,15 persen menjadi 6.433,32, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 3,11 poin (0,29 persen) menjadi 1.064,83.

Analis BNI Sekuritas Andri Zakaria Siregar di Jakarta, Jumat, mengatakan, sentimen positif yang beredar di pasar terbilang minim sehingga membuat investor saham cenderung melakukan aksi jual sehingga menahan laju IHSG. "Dari eksternal, investor masih dipengaruhi oleh sentimen mengenai kenaikan suku bunga The Fed yang diproyeksikan dinaikkan pada Maret ini," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa investor, terutama asing merespon kebijakan The Fed itu dengan mengalihkan sebagian aset sahamnya ke instrumen berdenominasi dolar AS, seperti obligasi. Pasalnya, naiknya suku bunga The Fed mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. "Keluarnya asing salah satunya dipicu terkait hal itu, di saham mereka sudah unung, lalu masuk ke obligasi. Namun, itu sifatnya strategi investasi, sehingga potensi asing kembali masuk ke saham-saham domestik masih terbuka yang akhirnya dapat turut menopang IHSG," katanya. Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan jual bersih atau foreign net sell sebesar Rp938,2 miliar pada akhir pekan ini (Jumat, 9/3).

Selain itu, lanjut dia, sentimen mengenai kebijakan pemerintah yang akan mengatur harga batubara untuk pasar domestik turut menjadi sentimen negatif, terutama bagi emiten sektor tambang.

Sebaliknya dengan BEI, sejumla  bursa regional justru berakhir di zona hijau. Diantara yang ditutup menguat itu antara lain  ndeks bursa Nikkei naik 101,13 poin (0,47 persen) ke 21.469,20, indeks Hang Seng menguat 341,69 poin (1,11 persen) ke 30.996,21 dan Straits Times menguat 5,13 poin (0,15 persen) ke posisi 3.485,57.

Senasib dengan lantai bursa,  nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ikut  melemah sebesar empat poin menjadi Rp13.785 dibanding posisi sebelumnya Rp13.781 per dolar AS.

Pelemahan itu dipicu oleh  naiknya imbal hasil global akibat kebijakan tarif alumunium dan baja yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump. "Rupiah terdepresasi seiring naiknya imbal hasil obligasi AS didorong oleh efek dari kebijakan Trump tersebut," kata Ahmad Mikail dari  Samuel Sekuritas.

Ia menambahkan bahwa sentimen dari dalam negeri mengenai defisit neraca perdagangan Indonesia turut menjadi faktor yang menahan laju rupiah. Setiap neraca perdagangan tercatat defisit, setiap kali itu pula rupiah terdepresasi terhadap dolar AS.

Kendati demikian, lanjut dia, kemampuan Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih cukup besar mengingat tingginya cadangan devisa Indonesia yang melebihi standar internasional. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya


Senin, 16 Juli 2018, 01:22 WIB

Merasakan Mudahnya Investasi di Era Jokowi