Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Senin, 19 November 2018

 

 

A.R. Baswedan, Liem Koen Hian dan Kecintaan Pada Indonesia

Opini / Jumat, 09 November 2018, 13:20 WIB

A.R Baswedan (kiri) dan Liem Koen Hian (kanan) | Foto : Istimewa

Oleh: Qusyaini Hasan *
 
A.R Baswedan dan Liem Koen Hian sama-sama Mendirikan Partai Politik sebelum Kemerdekaan RI. Ironisnya, Liem meninggal bukan sebagai Warga Negara Indonesia.

Yang dimaksud PTI di sini adalah Partai Tionghoa Indonesia, dan PAI merupakan Persatuan Arab Indonesia (di kemudian hari berganti menjadi Partai Arab Indonesia). Keduanya lahir pada masa kolonialisme Belanda. PTI didirikan Peranakan Cina progresif, Liem Koen Hian dan Ko Kwat Tiong pada September 1932 di Surabaya. Sementara PAI didirikan Peranakan Arab revolusioner pada 5 Oktober 1934 di Semarang yang dimotori A.R. Baswedan.
 
PTI dan PAI lahir dalam suasana meningkatnya kesadaran nasionalisme di Hindia Belanda. Ikrar Pemuda yang dikumandangkan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta menjadi pendulum utama bagi keduanya.
 
Menurut hukum Belanda, status Peranakan Cina dan Peranakan Arab masuk dalam golongan kelas dua: Asia Timur. Pemerintah Kolonial Belanda dalam secara resmi pada 1920 membagi hukum rakyat di Hindia Belanda ke dalam tiga golongan: Eropa, Asia Timur, dan Bumiputera. Jelas bahwa kelas Asia Timur memiliki sejumlah keistimewaan dibanding Bumiputera.
 
Tentu saja, PTI dan PAI merupakan upaya Peranakan Tionghoa dan Arab untuk bunuh diri kelas karena turut memperjuangkan gagasan kemerdekaan Indonesia. Indonesia belum lagi ada. Negeri ini masih bernama Hindia Belanda.
 
Dalam Politik Tionghoa Peranakan di Jawa (1994) Leo Suryadinata mengisahkan awal mula pendirian PTI. Masyarakat Cina di Hindia Belanda pada kurun 30-an terbagi ke dalam tiga kelompok: Chung Hwa Hui (CHH) yang cenderung pro terhadap Belanda; Sin Po yang menghendaki orang Cina di Hindia Belanda mempertahankan kebangsaan Cinanya dan berusaha menarik golongan Peranakan lebih dekat ke Cina; PTI yang menginginkan orang Tionghoa Hindia Belanda tetap mempertahankan identitas etnisnya tetapi secara politik terasimilasi ke dalam masyarakat Indonesia pribumi.
 
“Mereka (PTI) menganggap Indonesia sebagai tanah airnya, menamakan diri mereka Indonesier (orang Indonesia), menuntut persamaan hak dan kewajiban dengan orang pribumi, mau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, dan percaya bahwa nasib mereka terikat dengan nasib orang Indonesia Pribumi,” tulis Leo dalam buku yang semula tesisnya di Universitas Monash, Australia itu.
 
Tak semua orang Tionghoa di Hindia Belanda menyetujui Liem. Ada yang berpendapat bahwa dengan memilih menjadi Indonesia berarti mengajak orang Tionghoa Peranakan terlibat dalam perjuangan politik dan itu akan menurunkan derajat mereka ke status yang lebih rendah. Liem menukas bahwa perjuangan politik itu menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Selain itu, toh selama ini orang-orang Tionghoa tak juga dipandang tinggi oleh orang Belanda. Tujuan PTI berdiri adalah:
 
1, Untuk merapatkan hubungan dan saling hormat-menghormati antara orang-orang Tionghoa dan Pribumi; 2, Untuk meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi, sosial, dan politik terhadap suatu keadaan di mana semua rakyat menikmati hak-hak yang sama; 3, untuk menunjang kemerdekaan Indonesia, terutama melalui perjuangan politik kerja sama dengan partai-partai politik nasionalis Indonesia yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu mencapai Indonesia merdeka!
 
Mendapatkan inspirasi dari PTI dan Ikrar Pemuda 1928, A.R. Baswedan mendirikan Persatuan Arab Indonesia (pada 1937 berubah menjadi Partai Arab Indonesia). Dalam hal turun kelas, PAI berada selangkah di depan ketimbang PTI. Jika PTI hanya mendirikan partai yang secara hukum Belanda diperbolehkan, PAI selain mendirikan perkumpulan juga melakukan deklarasi.
 
Dengan bangga dan dengan keberanian mengambil risiko besar, pada 4 Oktober 1934 di Semarang para pemuda keturunan Arab mengumandangkan sumpah: 1, Tanah air Peranakan Arab adalah Indonesia; 2, Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri); 3, Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia. Sumpah ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda Keturunan Arab.
 
Berkat PAI, konflik yang semula runcing di dalam masyarakat Arab menjadi terkikis sedikit demi sedikit. Konflik seperti persoalan sayid dan non-sayid, sampai ke masalah dukungan terhadap pemerintah kolonial. Di dalam tubuh PAI sendiri masing-masing kelompok memiliki wakil, baik dari pihak sayid maupun non-sayid. Semuanya mendapatkan tempat. Mengenai tanah air, sumpah pemuda keturunan Arab itu mengunci sikap kalangan Arab untuk bertanah air Indonesia.
 
Menurut Suratmin dan Didi Kwartanada (2014), kalangan Arab di Hindia Belanda dipersatukan oleh keyakinan baru sebagai putra-putra Indonesia dan ditarik dari isolasi berpikir maupun dari ruang bergerak di lingkungannya yang telah berpuluh tahun. Mereka memasuki gelanggang perjuangan nasional dan bergabung dengan saudara-saudara sebangsanya untuk memerdekakan tanah air dan bangsanya.
 
Dengan sumpah pemuda keturunan Arab ini mereka secara simbolis dan hakiki menyatakan diri untuk melepaskan diri mereka dari Hadramaut, tanah yang sering mereka jadikan sebagai tujuan untuk mereka pulang. Jika diibaratkan ketika sampai ke satu pulau dan memutuskan untuk tinggal di pulau tersebut, mereka membakar sampan atau kapal mereka sehingga tak bisa kembali ke daerah semula.
 
Persamaan dan perbedaan
PTI dan PAI memang dekat, apalagi Liem Koen Hian dan A.R. Baswedan merupakan sahabat kental. Tapi, pendekatan dan cara mereka berjuang berbeda. Tak aneh bila penerimaan terhadap keduanya menjadi berbeda.
 
Ketika gerakan nasionalis membentuk Gabungan Politik Indonesia (Gapi) pada 1939 dan memberikan kesempatan kepada PTI dan PAI untuk bergabung, PTI memilih tak bergabung. PTI dan PAI dianggap sebagai anggota luar biasa. Sementara PAI menerima keputusan ini, PTI tidak sehingga membuatnya tetap berada di luar. Menurut Leo Suryadinata, keputusan Gapi yang tak memberikan keanggotaan penuh kepada PTI dan PAI ini karena sebagian besar kaum nasionalis Indonesia tidak menganggap kaum Peranakan sebagai orang Indonesia.
 
Tapi, hal lain terjadi pada PAI. PAI masuk dalam Gapi karena melihat celah untuk tetap bekerja sama dengan organisasi Indonesia lainnya untuk mencapai tujuan Indonesia merdeka. Secara jumlah pun PAI cukup berkembang. Sampai pada 1940 PAI memiliki 60 Cabang di seluruh Indonesia. Memang pada 1938 MB Alamudi mendirikan Indo Arabische Beweging (IAB), namun kelompok ini terlalu memihak Belanda dan berorientasi ke Hadramaut sehingga tak terlalu mendapatkan tempat di kalangan peranakan Arab lainnya. Selain itu, karena kedekatannya dengan Belanda Alamudi dianggap intel Belanda. IAB ini gagal mendapatkan perhatian kalangan Arab di Hindia Belanda. Secara otomatis PAI dianggap sebagai satu-satunya wadah bagi masyarakat Arab.
 
Hal ini berbeda dengan PTI. Kelompok Tionghoa tetap tak bisa bersatu. Mary Somers Heidues, yang dikutip Suratmin dan Didi Kwartanada (2014), menyatakan bahwa didorong oleh pemerintah kolonial untuk berpikir bahwa mereka terpisah dari mayoritas orang Indonesia, didorong oleh Pemerintah Tiongkok supaya berpikir sebagai warga Tiongkok, dan dipengaruhi secara historis oleh pengalaman yang berlainan, pada akhirnya komunitas-komunitas Tionghoa di Indonesia tidak pernah bisa bersatu.
 
Selain Sinpo dan CHH yang masih terus ada, dalam tubuh PTI sendiri terdapat gontok-gontokan yang tak kunjung selesai. Misalnya, pencopotan Ko Kwat Tiong dari Volksraad sebagai wakil PTI. Selain itu, Liem sendiri mendaftar menjadi anggota Gerindo ketika partai itu menerima Peranakan Tionghoa sebagai anggota. Motor partai beralih, dan kekuatan partai pun sedikit demi sedikit mengendur. Setelah negeri ini merdeka, pada 1948 tepatnya, peranakan Tionghoa juga mendirikan Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) yang diprakarsai Thio Thiam Tjong. Jadi, peranakan tidak memiliki suara bulat dalam berjuang.  
 
Hal ini berbeda dengan PAI. Sampai dibubarkan Jepang pada 1942, PAI tetap dihidupkan para pendiri dan penyokongnya. Selain cabang yang terus bertambah, lembaga otonom juga terus hadir. Ada PAI Istri, dan ada juga Lasykar PAI. PAI tetap solid sampai akhir. Ketika Indonesia merdeka dan partai atau kelompok mendapatkan kesempatan untuk kembali berdiri PAI memutuskan untuk tidak berdiri kembali. Tujuan mereka berdiri adalah Indonesia merdeka.  Ketika tujuan itu sudah tercapai maka sudah tak ada lagi kepentingan bagi mereka untuk menghidupkan kembali PAI.
 
Setelah Indonesia merdeka, anggota PAI diberikan keleluasaan untuk memilih organisasi atau partai yang mereka kehendaki. Ada yang masuk Masyumi, ada pula yang menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan ada juga yang tertarik ke Partai Komunis Indonesia (PKI).

Meskipun memiliki semangat yang sama, PTI dan PAI pada akhirnya berbeda nasib. PTI sebagai sebuah gerakan melemah karena tak bisa menyatukan gerakan Tionghoa, sementara PAI berhasil. Dalam sebuah tulisan A.R. ditanya kenapa PAI bisa sukses, sementara PTI tidak. Tjoa Tjie Liang, sahabat A.R. bertanya dalam harian Kuang Po yang diterbitkan di Semarang. A.R. menjawab sebagai berikut:
 
1. Dalam tahun-tahun pertama PAI, adalah masalah “ketanahairan” yang terus-menerus dibicarakan, merupakan sendi-sendi bagi alirannya.
2. Mendidik golongan turunan Arab untuk menginsafi dirinya sebagai putra Indonesia dan memupuk perasaan mereka sebagai orang Indonesia.
3. Membawa mereka keluar dari kehidupan menyendiri ke dalam masyarakat umum Indonesia.
4. Menginsafkan mereka tentang kewajiban-kewajibannya terhadap masyarakat dan untuk mencapai tujuan kemerdekaan lebih dulu daripada memikirkan hak-haknya.
5. Mempraktikkan kesadaran-kesadaran dan pikiran-pikiran itu dengan kerja sama dengan organisasi-organisasi itu dengan kerja sama dengan organisasi-organisasi Indonesia yang bersifat politik, kultural, maupun sosial, terutama pemuda Partai Arab Indonesia (Lasykar) mempunyai bagian wanitanya.
 
Efek dari keberhasilan PAI ini dapat kita lihat dari tampilnya para tokoh bangsa keturunan Arab yang turut memperjuangkan Indonesia melalui berbagai cara masing-masing, seperti A.R. Baswedan, Hamid Algadri, dan Ali Sastroamidjojo. Jejak mereka akan terus terpatri dalam sejarah bangsa. Menurut Anhar Gonggong (2012), PAI merupakan sejarah penting Indonesia dalam proses mengindonesia dan menjadi nasionalistisnya orang Arab.
 
Sementara untuk PTI, perlahan meredup. Bahkan Liem Koen keluar dan masuk dalam Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Peranakan Cina sendiri tak mencapai kesepakatan soal kewarganegaraan. Dan, setelah PTI bubar, pada 1948 Thio Thiam Tjong mendirikan Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI).
 
Sementara itu, Liem Koen Hian pada akhir hayatnya menolak kewarganegaraan Indonesia. Dia meninggal dunia di Medan dengan status sebagai warga negara asing.
 
Karena perbedaan inilah Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia, dalam suratnya kepada A.R. Baswedan menyatakan bahwa ada beda besar antara keturunan Arab dan keturunan Cina. Keturunan Arab bulat memandang Indonesia sebagai tanah airnya, sementara keturunan Cina masih ada yang berusaha mendapatkan kewarganegaraan RRC. (*)

*) Penulis adalah jurnalis dan editor

Komentar

 

Berita Lainnya

Senin, 09 Juli 2018, 09:52 WIB

Setiap WNI Punya Hak Datang ke Jakarta



Senin, 04 Juni 2018, 11:08 WIB

Insiden Teror Sarinah, Aparat Tidak Kecolongan




Rabu, 03 Januari 2018, 09:18 WIB

Membangun Kesadaran Membayar Pajak