Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Kamis, 24 Mei 2018

 

 

BI: Tekanan ke Rupiah Bersifat Sementara

NG / Ekonomi / Minggu, 04 Maret 2018, 00:05 WIB

Ilustrasi.

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah sedikit mereda. Kemarin (2/3) kurs tengah Bank Indonesia (BI) menunjukkan penguatan tipis 0,34 persen ke level Rp13.746 per dolar AS. Di pasar spot, rupiah masih stagnan dengan level terendah Rp13.757. Meski rupiah rata-rata masih berada di kisaran Rp13.700, setidaknya kemarin rupiah sama sekali tak menyentuh level Rp13.800.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, menyatakan, tekanan rupiah hanya sementara. Pidato Gubernur The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan suku bunga acuan bakal dinaikkan tiga kali, ditambah arah pertumbuhan ekonomi AS yang menunjukkan akselerasi, membuat pasar berekspektasi berlebihan terhadap dolar AS (US$). Dengan kondisi fundamental ekonomi yang baik, BI meyakini level Rp13.700 masih undervalued untuk rupiah.

“Waktu diperdagangkan di Rp13.200, Rp13.300, sebenarnya itu yang cocok buat kita,” kata Mirza di Jakarta, kemarin. Mirza menampik anggapan bahwa BI sengaja membiarkan rupiah tertekan lebih dalam untuk meningkatkan ekspor. Sebab, ekspor Indonesia pada Januari 2018 sebesar US$14,46 miliar tercatat turun 2,81 persen secara month-to-month (mtm). Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2017 pun mengalami defisit US$670 juta. Namun, secara year-on-year (yoy) ekspor Indonesia naik 7,86 persen.

“Enggak lah. Kalau sudah undervalued, ngapain kami tekan lagi (rupiahnya, red),” lanjut Mirza. Dia juga menekankan bahwa BI selalu hadir di pasar obligasi dan pasar valas ketika rupiah terjungkal akibat sentimen negatif dari pasar. Hal tersebut dilakukan agar rupiah lebih stabil. Dengan begitu, rupiah mampu keluar dari level Rp13.800.

Namun, Mirza mengakui bahwa kalangan eksportir sudah mulai memanfaatkan momen penguatan dolar AS. Dalam jangka pendek, kondisi seperti itu memang bisa memacu pertumbuhan nilai ekspor. Sedangkan mengenai tingginya pertumbuhan impor, Mirza mengatakan bahwa kenaikan impor didorong impor barang konsumsi dan barang mentah (raw material). Itu menunjukkan konsumsi masyarakat pada awal tahun mengalami peningkatan dan aktivitas industri juga lebih bergairah.

Sementara itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai pelemahan terhadap rupiah bukan kondisi yang mengkhawatirkan. “Fundamental ekonomi kita tidak ada persoalan. Pemicunya Powell yang ngomong begini begitu,” ujarnya di kantornya kemarin.

Darmin menuturkan, kondisi seperti itu bukan yang pertama dialami Indonesia. Dua tahun terakhir, rupiah juga pernah mengalami tekanan. Dia menegaskan faktor eksternal memang lebih banyak berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah. Padahal, sisi domestik, kondisi ekonomi Indonesia baik. (*)
 

Komentar

 

Berita Lainnya



Selasa, 22 Mei 2018, 09:47 WIB

DPR Minta Data Pangan Segera Sinkron



Minggu, 20 Mei 2018, 06:21 WIB

Impor Beras untuk Stabilisasi Harga