Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Rabu, 19 Desember 2018

 

 

Dorong Ekspor dengan Promosi Filosofi Dibalik Secangkir Kopi

TK / Gaya Hidup / Jumat, 28 September 2018, 14:23 WIB

Untuk ketiga kalinya, KJRI Toronto dan ITPC Vancouver kembali menghadirkan Paviliun Indonesia di pameran kopi dan teh tahunan terbesar di Kanada, the Canadian Coffee and Tea Show 2018 di Toronto Congress Center. | Foto: istimewa

TORONTO - Untuk ketiga kalinya, KJRI Toronto dan ITPC Vancouver kembali menghadirkan Paviliun Indonesia di pameran kopi dan teh tahunan terbesar di Kanada, the Canadian Coffee and Tea Show 2018 di Toronto Congress Center.

Dalam pameran yang berlangsung selama dua hari pada tanggal 23 dan 24 September ini, peserta pameran yang mewakili Caldera Coffee, Red Spatula Coffee & Roastery, Nusa Coffee, dan Kopiku tampak antusias menampilkan ragam kopi spesialti Indonesia, mulai dari Sumatra Mandailing yang sudah banyak dipopulerkan oleh gerai-gerai kopi besar di Kanada, hingga kopi luwak yang perlahan naikkan pamor Indonesia di mata dunia.

Jumlah pengunjung Paviliun Indonesia yang terlihat lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kopi Indonesia makin banyak dilirik oleh masyarakat setempat.

“Keunikan dan kualitas kopi Indonesia sebenarnya sudah banyak dikenal, tinggal bagaimana kita menampilkannya sesuai dengan kultur dan selera konsumen" ujar Ivan, professional barista yang didatangkan langsung dari Bali oleh Red Spatula Coffee & Roastery.

Meskipun Kanada bukan negara penghasil kopi, penduduknya termasuk salah satu konsumen kopi terbesar di dunia. 71 persen dari 35 juta jiwa penduduk Kanada merupakan penikmat kopi, dan rata-rata satu orang dewasa di Kanada mengkonsumsi 3 cangkir kopi per hari.

"Dari sini kita bisa melihat betapa besar pasar bagi komoditas kopi di Kanada", ujar Konsul Jenderal RI di Toronto, Leonard F. Hutabarat.

Sebagian besar impor kopi Kanada di tahun 2017 berasal dari Kolombia sebesar USD 227,8 juta; disusul oleh Brasil USD 143,5 juta dan Guatemala USD 96 juta.

Dari Indonesia, impor kopi Kanada hingga akhir tahun lalu tercatat sebesar USD 33,9 juta.

Konjen Leonard meyakinkan peserta bahwa Indonesia pasti mampu bersaing merebut minat konsumen kopi di Kanada yang kini didominasi oleh generasi milenial yang semakin selektif.

"Kuncinya adalah bagaimana pengusaha mengemas produknya dengan aspek moral dan filosofis, atau cerita yang otentik mengenai asal-usul biji kopi yang ditawarkan, disamping label organik dan fair trade," tuturnya. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya




Rabu, 17 Oktober 2018, 09:56 WIB

Youtube Tumbang di Sejumlah Negara