Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Minggu, 18 November 2018

 

 

Krisis Turki Dinilai Pengaruhi Ekonomi Nasional

TK / Parlemen / Rabu, 15 Agustus 2018, 12:10 WIB

Anggota Komisi XI DPR RI Hery Gunawan | Foto: istimewa

JAKARTA - Fundamental ekonomi di dalam negeri yang kurang bagus membuat daya tahan ekonomi Indonesia selalu terpengaruh oleh gejolak global.

Saat ini Turki sedang mengalami krisis ekonomi yang berimbas pada penurunan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Rupiah sempat turun pada level terendah tahun ini, sebesar Rp14.583 per dolar AS. Sedangkan IHSG juga turun 3,55 persen dari 6 ribuan menjadi 5.861,246.

Rupiah dan IHSG adalah dua hal yang saling berpengaruh. IHSG hanya bisa stabil jika rupiah berhasil dijaga. Tapi begitu rupiah melemah, IHSG juga akan ikut terkoreksi.

Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan yang dimintai komentarnya lewat sambungan telepon, Rabu (15/8/2018) mengatakan, pelemahan rupiah dan IHSG bukan melulu faktor eksternal.

Untuk diketahui, current account deficit (CAD) Indonesia di kuartal II 2018 melebar menjadi 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Belum lagi cadangan devisa turun ke angka 118,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2018.

“Ini jelas memengaruhi respon global terhadap pasar dan nilai tukar kita. Menyusul kemudian IHSG. Krisis mata uang lira di Turki, memang sedikit-banyak turut berpengaruh terhadap penurunan IHSG, walaupun sifatnya hanya sementara. Tapi, kita tak perlu khawatir jika fundamental kita bagus. Masalahnya, fundamental kita juga tidak bagus-bagus amat, sehingga muncul sentimen negatif pasar terhadap kemungkinan munculnya efek domino di negara-negara emerging market, termasuk Indonesia,” paparnya.

Saat ini depresiasi mata uang Turki menembus angka 40 persen. Ada kekhawatiran krisis Turki akan merambah ke Eropa dan bahkan global termasuk Indonesia.

Menurut Heri, sebetulnya masalah besar ekonomi Indonesia ada pada pengelolaan internal yang keliru yang dikenal dengan account defisit, primary balance defisit, dan service payment defisit.

“Kalau ketiga hal tersebut bisa dikelola dengan baik, maka kita tak perlu kuatir berlebihan terhadap gejolak global. Terbukti, dengan dirilisnya defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2018 yang melebar hingga 3 persen dari PDB serta neraca pembayaran Indonesia yang defisit 43 miliar dolar AS memicu sentimen negatif di pasar,” tutupnya. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya


Minggu, 18 November 2018, 13:25 WIB

Fahri Hamzah Beri Motivasi Peserta Kirab Pemuda 2018



Jumat, 16 November 2018, 09:34 WIB

DPR Dukung 5 Agenda Kerja Sama Indonesia - Inggris