Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Selasa, 26 Maret 2019

 

 

Menaker Cek Kabar Ratusan Mahasiswa Indonesia jadi Korban Kerja Paksa di Taiwan

EP / Nasional / Rabu, 02 Januari 2019, 13:45 WIB

Menaker Hanif Dhakiri menjawab wartawan soal kenaikan UMP 2019, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/10/2018) | Foto: istimewa

JAKARTA - Beredar kabar dari media lokal bahwa 300 mahasiswa asal Indonesia disuruh 'kerja paksa' di Taiwan. Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri tengah mengecek informasi tersebut.

Dikutip dari media lokal Taiwan, Taiwan News, Rabu (2/1/2019), ada 6 perguruan tinggi setempat yang kedapatan mempekerjakan mahasiswa di pabrik-pabrik.

Kabar itu terungkap dari penyelidikan yang dilakukan anggota parlemen Taiwan, Ko Chieh En.

Ko mengatakan 300 mahasiswa Indonesia berusia di bawah 20 tahun yang berkuliah di Universitas Hsing Wu dipaksa bekerja.

Padahal ada aturan kementerian setempat bahwa mahasiswa awal tahun tak boleh diminta bekerja.

Berdasarkan penyelidikan Ko, para mahasiswa hanya berkuliah pada Kamis dan Jumat setiap pekan.

Sedangkan untuk Minggu hingga Rabu, mereka diangkut dengan bus menuju pabrik di Hsinchu untuk bekerja pada pukul 07.30-19.30 waktu setempat dengan hanya 2 jam istirahat.

Mereka ditugasi mengepak 30.000 lensa kontak sambil berdiri setiap hari. Tak hanya itu, menurut Ko, mayoritas mahasiswa RI adalah muslim.

Namun, mereka terpaksa makan makanan yang mengandung potongan babi. Berdasarkan pernyataan pihak sekolah yang dikutip Taiwan News, jika para mahasiswa tak mau bekerja, pihak perusahaan akan memutus kerja sama dengan pihak kampus.

Kabar mengenai kondisi mahasiswa RI itu juga dipublikasikan oleh situs Indonesianlantern.com pada 31 Desember 2018. Selain itu, situs Liputan BMI mempublikasikan informasi serupa.

Mendengar kabar ini, Menaker Hanif Dhakiri akan menindaklanjutinya. Meski, sebetulnya isu ini merupakan ranah Kementerian Luar Negeri.

"Secara kewenangan Kemlu, tapi saya akan cek," kata Hanif.

Saat ini, Kemenristekdikti juga akan terus berkoordinasi dengan KDEI di Taipe dan Direktorat Perlindungan kepada Warga Negara Indonesia di Luar Negeri Kementerian Luar Negeri untuk melindungi pelajar Indonesia di Taipe. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya