Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Senin, 19 November 2018

 

 

Menristek Minta Rektor UGM Selesaikan Kasus Pemerkosaan Mahasiswi

EP / Nasional / Sabtu, 10 November 2018, 14:56 WIB

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Nasir | Foto: istimewa

JAKARTA - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Nasir mengaku heran dengan kembali munculnya kasus dugaan pemerkosaan mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang santer diberitakan belakangan. Menurut Nasir, kasus itu sudah lama terjadi dan sudah ditindaklanjuti.

"Kasus itu sudah 1,5 tahun yang lalu ya, sudah lama. Itu udah 1,5 tahun yang lalu. Sudah saya panggil saat itu dan itu sudah ditindaklanjuti. Kemudian setelah dia selesai katanya ini muncul lagi, loh ada apa lagi, saya pikir," kata Nasir saat ditemui di kantornya, Senayan, Jakarta, Sabtu (10/11/2018).

Nasir menjelaskan saat itu pihaknya sudah memerintahkan Rektor UGM untuk segera menyelesaikan kasus ini. Menurutnya, semua permasalahan yang terjadi di kampus adalah tanggung jawab rektor.

"Pelanggaran semua yang ada di kampus itu adalah rektor lah yang bertanggung jawab. Intinya gitu. Dan rektor ada satu pedoman yang diatur apabila ada pelanggaran di akademik, pelanggaran apapun itu harus ikuti prosedur yang ada. Kalau itu urusan akademik, penyelesaian (secara) akademik. Kalau urusan pidana selesaikan dengan hukum, yaitu polisi dan pengadilan," jelas Nasir.

Nasir meminta Rektor UGM menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. Ia juga meminta Rektor UGM untuk memberikan laporan kepadanya.

"Ini harus diselesaikan semua ini, dan ini rektor lah yang bertanggung jawab. Dan rektor yang biasa memberikan laporan kepada kami," ujarnya.

Sebelumnya, kasus pemerkosaan mahasiswi UGM, Agni (bukan nama sebenarnya) beredar melalui tulisan di website Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Balairung.

Mahasiswi itu diduga mengalami pelecehan seksual oleh rekannya sesama mahasiswa berinisial HS saat KKN di Maluku pada 2017. 

Dalam tulisan itu disebutkan pula bahwa pelaku HS sedang dalam proses kelulusan dan pihak UGM tak menjalankan rekomendasi tim investigasi internal kasus itu.

Kasus tersebut terjadi pada saat keduanya KKN di Pulau Seram, Maluku, Juni 2017. Ketika itu, korban disebut mengalami kekerasan seksual dari HS, saat menginap di rumah yang sama.

Korban lantas melaporkannya ke pihak universitas yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan tim investigasi. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya