Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Selasa, 19 Maret 2019

 

 

PSI: Test Baca Alquran Bagi Capres Tidak Relevan

TK / Politik / Senin, 31 Desember 2018, 10:33 WIB

Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia, Dedek Prayudi | foto: istimewa

JAKARTA - Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia, Dedek Prayudi, menilai bahwa tes membaca Al-Quran tidak relevan dalam proses pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden.

Politisi yang akrab disapa Uki ini menilai bahwa partainya sejak awal berpendirian bahwa ibadah adalah ranah personal, bukan untuk dipertontonkan sebagai alat dan syarat meraih suara.

"PSI tetap konsisten bahwa tes membaca kitab suci agama apapun tidak relevan karena itu tidak termaktub di dalam konstitusi kita. Capres diharapkan membaca dan paham ayat-ayat konstitusi bukan ayat-ayat suci. Sedangkan agama adalah ranah personal, jauh lebih mulia dari sekadar alat meraih suara," kata Juru Bicara PSI, Dedek Prayudi, dalam keterangan persnya, Senin (31/12/2018).

Menurutnya, tidak ada aturan yang mengaharuskan capres untuk bisa membaca ayat-ayat Alquran. Yang lebih relevan bagi capres adalah memahami konstitusi dan punya program yang baik. 

"Di negara Pancasila ini tidak ada kewajiban calon presiden bisa baca ayat-ayat Quran. Yang penting paham ayat-ayat konstitusi, punya visi, misi dan program kongkret untuk rakyat. Ini yang tidak dimiliki Pak Prabowo." ujar Uki.

Ia melihat politik identitas telah diterapkan oleh kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Namun kini strategi politik identitas berbalik menyudutkan kubu Prabowo-Sandi lewat isu tes baca Alquran.

Isu bernuansa politisasi agama yang dicontohkan Uki adalah pernyataan Amien Rais soal sebutan tertentu untuk koalisi partai politik.

"Masih segar rasanya ketika Pak Amien mengelompokkan koalisi partai politik dengan sebutan partai Allah dan partai setan. Juga beliau menganalogikan pilpres ini dengan perang agama, yakni perang badar dan perang uhud. Apalagi kalau kita bicara soal Capres Cawapres pilihan Ijtima Ulama yang seolah mewakili pilihan agama tertentu," tuturnya.

Namun dia menjelaskan, kalapun Prabowo tak bisa membaca Alquran, itu sama sekali tak membatalkan pencapresannya.

 "Di negara Pancasila ini tidak ada kewajiban colon presiden bisa baca ayat-ayat Quran. Yang penting paham ayat-ayat konstitusi, punya visi, misi dan program kongkret untuk rakyat. Ini yang tidak dimiliki Pak Prabowo," pungkas dia. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya

Senin, 18 Maret 2019, 10:11 WIB

Lawan 3 Kartu Sakti Ma'ruf, Sandiaga Pakai E-KTP





Sabtu, 16 Maret 2019, 18:08 WIB

Temui Pendukungnya, Prabowo: Banten Luar Biasa!