Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Kamis, 24 Mei 2018

 

 

Waspada, 120 Perempuan Indonesia Siap Jadi Pengantin Bom Bunuh Diri

AD / Nasional / Kamis, 17 Mei 2018, 03:46 WIB

Salah satu kejadian bom bunuh diri di Surabaya/foto:istimewa

JAKARTA- Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia mengungkapkan, 120 perempuan menyatakan siap menjadi pengantin bom bunuh diri.

Data tersebut diperoleh selama Musdah mengerjakan tesis tentang keterlibatan perempuan dalam gerakan terorisme di Indonesia.

Musdah menjelaskan, 120 perempuan tersebut tersebar di berbagai jaringan penganut paham fundamentalis yang mengizinkan aksi teror. Ratusan perempuan itu juga mengenal satu sama lain.

"Dalam semua jaringan, mereka itu sangat solid antar satu sama lain dan saling kenal," jelas Musdah seusai menghadiri deklrasi Gerakan Warga Lawan Terorisme di Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

Musdah memaparkan model terorisme dengan melibatkan perempuan, bukanlah hal baru di Indonesia dan internasional. Ia mencontohkan kasus rencana peledakan bom panci oleh Dian Yuli pada Desember 2016 lalu.

"Jadi di dunia internasional memang ISIS itu sejak 4-5 tahun yang lalu itu sudah mengubah straregi mereka, dan menggunakan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku. Itu akhir 2016 ketika terjadi bom panci Dian Yuli itu," jelasnya.

Seperti diketahui, keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme yang terbaru adalah pengeboman tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5).

Puji Kuswati, mengajak dua anak perempuannya untuk mengebom Gereja Kristen Indonesia. Sementara pada kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5), ada perempuan yang juga menjadi pelaku.

Sementara itu guna mencegah bertambahnya para pengantin bom bunuh diri ini, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan saat ini diperlukan adanya ideologi tandingan yang bersifat moderat untuk meredam maraknya penyebaran pemahaman radikalisme di masyarakat.

"Terorisme tidak bisa ditangkal hanya dengan menangkap dan menembak pelaku. Counter ideologi dilakukan dengan memoderasi narasi radikal mereka," kata Tito.

Tito menuturkan, peran para ahli agama sangat diperlukan untuk membantu pemerintah memberantas terorisme.

Sebab, penyebaran paham radilkal kerap dilakukan oleh kelompok teroris melalui narasi ideologi dengan mengutip ayat-ayat kitab suci yang multi-interpretasi.

Dia mencontohkan konsep Islam Nusantara di kalangan Nahdlatul Ulama yang merupakan salah satu contoh ideologi tandingan. Jika dilakukan secara intens, kata Tito, maka konsep Islam Nusantara bisa mencegah upaya radikalisasi kelompok teroris.

"Ini yang harus intens karena Islam Nusantara itu kan moderat dan berlandaskan kearifan lokal," ucapnya.(*)

Komentar

 

Berita Lainnya