Dinilai Tendensius, Aksi 121 Kembali Dikritik

    1
    SHARE
    Foto: Istimewa
    Foto: Istimewa

    JAKARTA – Rencana aksi mahasiswa yang dinamakan Aksi 121 oleh Badan eksekutif Mahasiswa se-Indonesia (BEM SI), kembali dikritik. Kali ini kritikan datang dari Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (BEM PTAI) se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) BEM/DEMA PTAI.

    Forkom BEM/DEMA PTAI tidak sependapat dan menyayangkan seruan tersebut, mereka menilai aksi tersebut tendensius. Presidium Nasional Forkom BEM PTAI, Najmut Sakib, mengatakan, aksi demonstrasi yang akan digelar BEM SI cenderung berlebihan. Menurut Najmu, menempatkan posisi mahasiswa sebagai tandem kritis pemerintah juga harus adil sejak dalam pikiran.

    “Isu yang disorot kan soal harga-harga yang mendadak naik, harusnya ya dievaluasi. Bukan ujug-ujug bikin seruan Reformasi Jilid II. Itu kan lebay. Adil lah sedikit”, kata Najmu.

    Najmu juga menyorot efek dari aksi yang bisa saja menimbulkan disintegrasi. “Konsolidasi demokrasi ini harus dikawal menuju pendewasaan. Kalau dikit-dikit revolusi, dikit-dikit reformasi, kita kan jadi curiga. Jangan-jangan ini politis”, tambahnya.

    Meski demikian Forkom BEM PTAI ingin mahasiswa tetap kritis dan menjadikan independensi sebagai jubah kemerdekaan berpikir mahasiswa. “Persoalaan bangsa harus diselesaikan dengan kepala dingin. Dengan duduk bersama, tidak saling menyalahkan, lempar masalah sembunyi tangan. Kita bangsa yang berbudaya dan beretika, banyak kelompok yang semakin membuat kegaduhan membuat kenyaman menjadi terganggu”.

    Selain mengkritisi rencana aksi, Forkom BEM PTAI juga berharap kepada pemerintah untuk lebih peka agar segala persoalan tidak menjadi bola salju, dengan lebih memberikan solusi yang jelas tanpa saling tuding. Selain itu bagi kaum intelektual juga tidak menanggalkan idealismenya hanya untuk kepentingan sesaat, pragmatis dan oportunis agar tidak dimanfaatkan oleh oknum sesat yang hanya memecah bangsa.
    (HS)

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY