Home Sosbud Fashion Karya Empat Designer Indonesia Pukau Senegal

Fashion Karya Empat Designer Indonesia Pukau Senegal

0
SHARE

SENEGAL – Rancangan empat desainer Indonesia pukau ratusan tamu di acara Resepsi Diplomatik Peringatan HUT RI ke-72 di KBRI Dakar, Senegal pada 14 November 2017 lalu.

Acara yang mengangkat tema “Nusantara Fashion and Culture Show” ini menggabungkan antara fashion dengan budaya Indonesia.

Karya yang ditampilkan berupa busana rancangan Nita Seno Adji, Rudi Chandra, Defrico Audy, dan Malik Moestaram yang diperagakan oleh para model profesional binaan Amina Badiane, Ketua Komite Miss Senegal.

Melalui tangan-tangan berbakat para desainer, Batik dihadirkan dalam gaya kontemporer dan tetap stylish untuk memunculkan kesan bahwa batik dan kain Indonesia lainnya tidak hanya digunakan dalam konteks busana tradisional, namun juga untuk busana modern.

Kepiawaian desainer Indonesia dalam rancangannya dan keindahan kain Batik Indonesia berhasil memukau ratusan tamu yang hadir.

Desainer Nita Seno Adji memilih tema rancangannya “the Rainbow of Asia and Africa” yang merefleksikan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Senegal.

Desainer Nita mencoba untuk mengeksplor warna dan kehidupan orang Senegal dengan menitikberatkan pada pola klasik Batik Indonesia dipadukan dengan Tenun Bali dan Sarung sutra Makassar.

Desainer Rudy Chandra mengambil tema “Enchanting East Indonesia” yang memadukan antara pewarna alami dengan Tenun dari Sabu, NTT.

Koleksi yang ditampilkan menggambarkan keindahan tekstil tradisional dari wilayah timur Indonesia. Sementara itu, Defrico Audy mengangkat tema “Sumba in My Mind” yang memilih Tenun dari Sumba, NTT. Defrico mempersembahkan rancangan busana yang elegan, modern dan fashionable bagi warga Senegal.

Desainer Malik Moestaram memilih tema “the Stunning Beauty of Solo” yang menampilkan gaun Batik kontemporer dari Solo untuk busana-busana yang khusus digunakan untuk acara-acara pesta. Kupu-kupu dan daun menjadi pola utama dari gaun Batik ini.

Dubes RI Dakar Mansyur Pangeran mengatakan, KBRI sengaja mendatangkan empat desainer kondang Indonesia tersebut untuk mempopulerkan Batik Indonesia di Senegal.

“Tahun lalu kita membuat acara yang sama namun kali ini kita adakan lebih megah dan lebih menarik dengan menampilkan busana-busana Batik dan tenun yang beraneka corak dan warna,” ujar Dubes Mansyur.

Ia mengatakan, selaras dengan informasi yang dirilis oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2016 ekonomi Indonesia didominasi oleh tiga subsektor ekonomi kreatif, dua diantaranya kuliner (41,69%) dan fashion (18,15%).

Oleh karena itu, kami mencoba mensinergikan antara fashion dengan prioritas utama diplomasi RI yaitu diplomasi ekonomi.

“Saya sebut ini sebagai fashion diplomacy, disini kita mencoba untuk menggunakan channel-channel diplomatik untuk menghubungkan antara desainer Indonesia dengan para pemerhati fesyen dan buyers, majalah fesyen dan rumah mode,” tuturnya.

Dubes Mansyur Pangeran juga menyampaikan bahwa realitas hubungan bilateral antara Indonesia dan Senegal diwujudkan dengan adanya saling kunjung pejabat senior dari Senegal ke Indonesia dan sebaliknya.

Ia mengusulkan sebuah program kerja sama untuk mendukung Plan Senegal Emergent (PES), khususnya di bidang transportasi darat, laut dan udara.

Indonesia telah melakukan kerja sama di bidang transportasi udara dengan Kementerian Angkatan Bersenjata Senegal, dimana Pemerintah Senegal telah membeli dua pesawat CN-235 yang diproduksi oleh PT.DI Indonesia yang digunakan untuk keperluan militer dan VIP.

Saat ini Pemerintah Senegal sudah memesan satu lagi pesawat CN-235 untuk keperluan maritim. Dubes Mansyur juga menawarkan kerja sama dalam pembangunan jaringan kereta api dan gerbong yang diproduksi oleh PT. INKA Indonesia serta kerja sama pembangunan di sektor transportasi maritim.

Sementara itu, Oumar Gueye, Menteri Perikanan dan Ekonomi Maritim Senegal menyampaikan bahwa kerja sama kedua negara diwujudkan dengan kursus pelatihan yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia kepada agen Administrasi Senegal, khususnya di bidang pengolahan pertanian, kulit dan plastik, kesehatan masyarakat dan teknik.

Penyebarluasan informasi Senegal dan Indonesia juga telah membentuk sebuah kelompok pertemanan untuk berbagi praktik terbaik di bidang kerja sama diplomasi, ekonomi, perdagangan, investasi dan teknis.

Menteri Oumar Gueye juga mengatakan bahwa Indonesia dan Senegal memiliki nilai budaya dan agama yang sama sehingga kemitraan antara kedua negara juga dapat berkembang di bidang ini karena kedua negara mewakili model keragaman budaya dan toleransi.

Acara yang digelar KBRI tersebut dihadiri oleh ratusan penonton dari kalangan diplomatik, organisasi internasional, pejabat pemerintah, pengusaha, LSM nasional dan internasional, media massa, Indonesianis, pengamat fesyen, pecinta batik, operator pariwisata, sosialita, budayawan hingga akademisi.

Selain pagelaran busana, acara juga diisi dengan penyajian kuliner khas Indonesia seperti: nasi goreng teri medan, mie goreng, sate ayam, bakwan sayur udang, dan lemper ayam.

Perpaduan yang harmonis antara peragaan busana dengan pertunjukan budaya serta penataan ruang pameran membuat peragaan batik tersebut mendapat sambutan meriah dari para tamu.

Mulai dari koridor pintu masuk sudah ditampilkan berbagai barang seni budaya Indonesia antara lain peralatan musik gamelan, patung Garuda Jatayu, patung semar, petruk, bagong dan gareng, patung roro loro blonyo, pojok Betawi dan pojok batik, serta aneka produk kerajinan tangan yang diimpor langsung dari Indonesia oleh Libelulle.

Fashion batik dan tenun Indonesia karya empat designer tersebut nanti akan kembali diperagakan oleh para finalis Miss Senegal 2017 di ajang Grand Final Miss. (TK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here