Home Ekonomi Gandeng TNI, Realisasi Cetak Sawah Kementan Naik 400 Persen

Gandeng TNI, Realisasi Cetak Sawah Kementan Naik 400 Persen

0
SHARE
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman | Foto: Antara/Herry Murdy Hermawan

JAKARTA – Kementerian Pertanian bersinergi dengan TNI Angkatan Darat dalam program realisasi cetak sawah. Kerja sama tersebut dilakukan sejak 2015. Buah dari sinergi ini, cetak sawah pada 2015 hingga 2016 naik 400 persen.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, kenaikan tersebut tertinggi dalam sejarah. “Ini luar biasa karena sinergi bersama,” kata Amran pada konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta, Senin (6/11).

Amran menjelaskan, kenaikan hasil cetak sawah biasanya hanya sebesar 10%. Realisasi cetak sawah hanya seluas 24.000 hingga 26.000 hektare per tahun. Maksimal 50 ribu hektar per tahunnya.

Setelah sinergi dilakukan, data cetak sawah pada 2015 menghasilkan realisasi fisik 20.070 ha atau 87,26 persen dari target. Realisasi fisik cetak sawah pada 2016 sebesar 129.076 hektare atau naik 400 persen dibandingkan 2014. Hasil evaluasi per 31 Oktober 2017 menunjukkan sawah seluas 126.437 ha sudah dimanfaatkan.

Amran memaparkan kenaikan ini juga terlihat dari kondisi sembako di Indonesia. Sejumlah sembako kini tidak impor dan harga menjadi stabil. “Kita hari ini juga nggak ada impor jagung dan kami baru tiba dari luar negeri dan beberapa negara ingin belajar di Indonesia terkait hal ini. Dulu impor 3,6 juta ton senilai Rp12 triliun sekarang enggak ada,” jelas Amran.

Ia menambahkan, komoditas lain yang juga biasanya impor seperti bawang dari Thailand, sebaliknya, saat ini Indonesai telah mengekspor ke enam negara.

“Kemudian cabai yang kita tahu harganya dulu sekarang sudah stabil. Beras juga Alhamdulillah hari ini enggak ada impor,” sambungnya.

Mentan menjelaskan program cetak sawah dengan sinergi TNI AD telah diatur dalam UU 34 Tahun 2004 tentang TNI dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2011 tentang pengamanan produksi beras nasional menghadapi kondisi iklim ekstrem.

Menurut Amran, kerja sama dengan TNI AD menjadi penting mengingat pada 2015 Indonesia dilanda fenomena cuaca El Nino dan La Nina pada 2016. “Jadi kita lakukan sinergi dengan TNI dan yang terpenting adalah hasil yang dicapai. Hasil cetak sawah naik 400% dan itu kenaikan tertinggi sepanjang sejarah pertanian,” tuturnya.

Cetak sawah dikembangkan dengan pola community development yang menekankan partisipasi dari petani. Cetak sawah dilakukan pada tanah yang menganggur atau tidak digarap. Pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan petani dilakukan oleh Kementan bersama TNI dengan menggunakan alat berat.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mulyono menjelaskan tidak ada hambatan yang berarti karena TNI memanfaatkan kemampuan personel dan peralatan bidang konstruksi.

Namun, proses cetak sawah membutuhkan waktu cukup lama untuk mengubah kondisi lahan perhutanan menjadi pertanian.

“Lahan yang kami kerjakan dalam satu hektare kadang-kadang tidak produktif, seperti lahan rawa yang kalau dikerjakan membutuhkan waktu cukup lama,” ungkap Mulyono. (MA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here