Home Nasional Hadiri 16th APSC Council Meeting, Menko Polhukam Bahas Teroris Hingga Perdagangan Manusia

Hadiri 16th APSC Council Meeting, Menko Polhukam Bahas Teroris Hingga Perdagangan Manusia

0
SHARE
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menghadiri acara 16th ASEAN Political-Security Community (APSC) Council Meeting di Manila, Filipina, Senin (13/11/17). | Foto: istimewa

FILIPINA – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menghadiri acara 16th ASEAN Political-Security Community (APSC) Council Meeting di Manila, Filipina, Senin (13/11/17). Pertemuan tersebut membahas berbagai hal salah satunya mengenai terorisme.

“Ancaman Foreign Terrorist Fighters atau FTF dan terorisme lintas batas sangat memprihatinkan. Kehadiran teroris sangat mematikan di wilayah kita, terutama di Laut Sulu dan Laut Sulawesi. Ini menuntut konsultasi dan kolaborasi yang intensif diantara semua negara,” kata Menko Polhukam Wiranto.

Wiranto mengatakan, teroris yang berafilisi dengan ISIS telah menunjukan kemampuan tempurnya yang luar biasa. Hal ini terbukti ketika mereka mengepung dan menduduki Kota Marawi di Filipina Selatan.

Dalam hal ini, ia mensyukuri bahwa militer di Filipina juga memiliki kekuatan yang sama sehingga dapat membebaskan Kota Marawi dari cengkeraman teror.

“Saya dengan sepenuh hati mengucapkan selamat kepada pemerintah Filipina dan militernya atas pencapaian yang luar biasa, terutama operasi tempurnya, yang menyebabkan kematian kedua pemimpin ISIS tersebut. Karena mereka telah membangun jaringan, kita tidak dapat menerima begitu saja bahwa mereka akan berhenti mengancam kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menko Polhukam menyambut baik Patroli Bersama Trilateral di Sulu dan Laut Sulawesi yang dilakukan antara Indonesia, Malaysia dan Filipina. Mekanisme tersebut dimulai untuk memperkuat mekanisme ASEAN yang ada untuk melawan terorisme, terutama dalam menanggapi perkembangan baru-baru ini dari FTF dan terorisme lintas batas.

“Kami dengan senang hati menyambut baik penerapan Rencana Aksi Komprehensif ASEAN terhadap Terorisme dan Deklarasi Manila untuk menanggulangi Radikalisasi dan Ekstrimisme Kekerasan. Kami di Indonesia berharap ini akan mengarah pada penguatan kerjasama kita dalam berbagi intelijen, memotong pendanaan teroris, menghancurkan terorisme cyber, pengelolaan perbatasan terpadu, deradikalisasi dan kontra-radikalisasi, sekaligus mempromosikan moderasi dan budaya damai dan toleransi,” paparnya.

Menko Polhukam juga menyoroti kejahatan yang berkaitan dengan masalah perikanan dan narkoba. Terkait kejahatan perikanan, ia mengungkapkan bahwa Indonesia sangat terbebani oleh serangkaian kejahatan yang terkait dengan IUU. Mereka menimbulkan kerugian besar pada ekonomi Indonesia dan menimbulkan malapetaka atas keamanan regional di Indonesia.

“Kita harus bekerja lebih keras bersama-sama untuk mempertahankan sumber daya maritim kita dari ancaman ini. Kami herus menerjemahkan tindakan efektif Pernyataan ARF tentang Kerjasama untuk Mencegah, Menghalangi dan Menghilangkah Perikanan yang Tidak Diakui, Tidak Dilaporkan dan Tidak Diatur,” kata Wiranto.

Sementara terkait masalah narkoba, Menko Polhukam menceritakan pengalaman aparat di Indonesia dalam hal ini BNN yang telah berhasil menyita satu ton narkoba dengan jenis metamfetamin kristal yang dibawa dari luar negeri pada bulan Juli 2017 lalu. Menurutnya, pengiriman yang sangat besar ini mengindikasikan besarnya masalah narkoba di wilayah Indonesia.

“Oleh karena itu, kami diminta untuk melipatgandakan usaha kami untuk mencapai visi kami tentang ASEAN yang terbebas dari narkoba melalui pelaksanaan Rencana Kerja ASEAN untuk Mengamankan Masyarakat yang Melawan Obat-obatan Terlarang 2016-2025,” ujarnya.

Terakhir, Menko Polhukam melaporkan bahwa Indonesia telah menyelesaikan proses internal mengenai ratifikasi ACTIP pada bulan lalu. Dengan demikian, maka Indonesia telah berkomitmen untuk memerangi perdagangan manusia di wilayah Indonesia.

“Saya dengan senang hati mengatakan bahwa kita telah membuat peringatan ulang tahun keemasan ASEAN kita jauh lebih bermakna dengan tetap bersatu meskipun kita beragam. Marilah kita terus berbicara dengan satu suara dan memperkuat kepemimpinan kolektif kita sehingga ASEAN terus menjadi lebih kuat dan sejahteran di tahun-tahun mendatang,” tandasnya. (EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here