Home Nasional Ikatan Dai Indonesia: Upaya Pemerintah Sejahterakan Rakyat Bagian Jihad

Ikatan Dai Indonesia: Upaya Pemerintah Sejahterakan Rakyat Bagian Jihad

0
SHARE
Ketua Ikatan Dai Indonesia KH Ahmad Satori Ismail | Foto: Istimewa

JAKARTA – Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail mengatakan jihad memiliki makna luas. Upaya pemerintah untuk mensejahterakan rakyat juga disebut jihad.

“Karena dengan kemerdekaan yang diraih bangsa ini, para pejabatnya atau penguasanya harus bisa berusaha untuk mensejahterakan rakyatnya, bisa juga memberdayakan ekonominya serta bisa melindungi keyakinan-keyakinan agama yang dipeluk oleh rakyatnya. Itu juga merupakan jihad pemerintah melalui seluruh aparatnya terhadap bangsa demi rakyatnya,” kata Ahmad Satori Ismail dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (10/10).

Ahmad Satori menambahkan, sebagai seorang Muslim yang menghuni satu negara, menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai warga negara, kemudian memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, membela bangsa yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga bagian dari jihad.

“Kalau bangsa kita ini tidak merdeka tentunya masyarakat dan pemerintahnya tidak bisa untuk melakukan itu semuanya. Oleh karena itu, kewajiban membela negara agar rakyatnya terlindungi semua kepentingannya, baik ekonomi, politik, pendidikan, hingga kenyakinannya, bukanlah hanya kewajiban pemerintah tapi juga kewajiban semua warga negara,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika berpatokan pada Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 yang menyebut bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, maka dapat disimpulkan bahwa membela negara adalah suatu kewajiban.

Ahmad Satori yakin bahwa dalam semua agama yang dianut di Indonesia, juga mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan pengorbanan bagi negaranya. Karena, agama lain juga membutuhkan tempat ibadah untuk para pengikutnya agar bisa menjaga keyakinannya. “Dan tentunya ini suatu kebutuhan bersama dalam negara ini. Saya yakin agama yang lain juga melakukan demikian dimana para pengikutnya sama-sama untuk memiliki niat yang baik pada negeri ini dalam usaha memelihara keyakinannya,” tutur pria kelahiran Cirebon, 6 Desember 1955 ini.

Dengan dasar itu, kata Satori, yang justru perlu diperangi adalah kelompok-kelompok radikal yang berperang melawan bangsanya sendiri dan menganggap pemerintah hogut. Kelompok-kelompok sepert itulah yang menurutnya tidak memahami permasalahan jihad yang sesungguhnya. Karena, jihad tidak harus mengangkat senjata tapi ada banyak jihad dalam bentuk lain.

Pria yang juga menjadi anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga sangat menyayangkan masih adanya masyarakat Indonesia yang belum percaya terhadap pemerintahnya sendiri yang sudah melakukan segalanya untuk masyarakatnya. Namun sebaliknya, pemerintah juga harus membuktikan telah memperjuangkan rakyatnya, termasuk ekonomi mereka, dengan sebaik-baiknya agar dipercaya.

“Membuktikannya tidak bisa sekadar dipaksakan melalui pidato atau ceramah saja, tetapi harus dibuktikan yang riil bahwa memang pemerintah benar-benar berusaha maksimal dengan berbagai macam kegiatannya untuk mensejahterakan rakyatnya,” ujarnya.

Dengan usaha pemerintah melalui para perangkatnya untuk melakukan jihad secara sungguh-sungguh terhadap bangsanya yakni dengan tujuan untuk mensejaterakan rakyatnya, insya Allah itu akan mengkokohkan rakyat terhadap pemerintahnya, demikian menurut Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI ini. (ENA)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here