Home Ekonomi Industri Indonesia Masih jadi Buruan Kejahatan Siber

Industri Indonesia Masih jadi Buruan Kejahatan Siber

0
SHARE
Sejumlah pengamat siber menghadiri diskusi bertajuk Indonesia dan Ancaman Siber yang Merajalela di Kampus Universitas Guna­darma, Jakarta, Sabtu (10/6). Foto: Istimewa

JAKARTA – Ancaman dari internet belakangan ini kian mengkhawatirkan. Apalagi Indonesia, makin sering jadi negara yang paling banyak diincar oleh para penjahat siber.

Apesnya, industri yang dinilai paling rentan untuk dibobol para hacker itu adalah perbankan. Bahkan, menurut ahli forensik digital dari Universitas Gunadarma Ruby Alamsyah, hacker pelakunya semakin pintar dalam mengeruk dana nasabah perbankan.

“Ada peningkatan modus kejahatan di dunia siber belakangan ini. Modusnya makin canggih,” ucap Ruby dalam seminar bertajuk Indonesia dan Ancaman Siber yang Merajalela di Kampus Universitas Guna­darma, Jakarta, Sabtu (10/6).

Ia menjelaskan, jumlah dana yang di­ambil oleh pelaku kejahatan sekitar Rp100 juta per harinya. Menurut Ruby, pelaku kejahatan siber semakin mema­hami ke­amanan di perbankan yang diatur oleh regulator Otoritas Jasa Ke­uangan (OJK) maupun Bank Indonesia (BI).

Menurut Ruby, pelaku kejahatan ini me­rupakan orang asing yang berasal dari Rusia. “Ini background-nya Rusia, dari 2009-2010 hacker Rusia selalu menargetkan negara berkembang seperti Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan, teknis pengambilan dana nasabah dilakukan melalui internet banking. Pelaku telah memantau rutinitas tran­saksi dari pemilik rekening, kemudian saat nasabah melakukan transaksi tujuan pengi­riman dan jumlah transaksi akan diubah oleh pelaku.

Untuk mengatasi hal ini, Ruby sendiri telah melakukan diskusi dengan BI dan OJK. Namun, keduanya tidak dapat me­la­kukan tindakan lebih selain membuat sistem yang aman bagi nasabah. “Me­reka regulator keuangan, kendala me­reka harus mempunyai cyiber security,” katanya.

Sementara pakar hukum teknologi in­formasi dari Universitas Gunadarma, Ed­mon Makarim, menilai kejahatan dunia maya bukan dilakukan penggu­nanya. Na­mun seorang yang membuat program software dan hardware yang harus bertang­gung jawab.

Cyber crime yang menjadi penjahat bukan pengguna, tapi yang bikin program, Wannacry gara-gara apa, ini tidak ada manusia yang sempurna membuat program. Tapi kalau ini program jelek tapi digunakan, bisa dibilang sarana kejahatan, turut serta,” katanya. (NG)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here