Home Opini Peran Indonesia Untuk Pengembangan Blue Economy di Samudera Hindia

Peran Indonesia Untuk Pengembangan Blue Economy di Samudera Hindia

0
SHARE
Logo IORA

SAMUDERA Hindia adalah samudera terbesar ketiga di dunia. Mencakup 20 persen dari permukaan air bumi. Namun demikian, samudera yang juga dikenal Ratnakara yang dalam Bahasa Sansakerta berarti tambang permata itu memang sudah menjadi lalu lintas perdagangan dunia dari zaman dahulu hingga sekarang.

Wajar, setengah dari seluruh kapal kontainer di dunia melewati Samudera Hindia. Sepertiga lalu lintas kargo curah dunia dan dua per tiga pengiriman minyak dunia lewat dari samudera yang mengambil nama dari negara India tersebut. Inilah jalur utama perdagangan dan transportasi dunia.

Indian Ocean Rim Association (IORA) atau Asosiasi Negara Pesisir Samudera Hindia adalah pelopor dan satu-satunya organisasi regional di wilayah Samudera Hindia. Samudera Hindia berperan strategis terutama untuk ekonomi dunia dimana terhubungnya perdagangan internasional dari Asia ke Eropa dan sebaliknya.

Dasar dalam pengembangan kerja sama yang saling menguntungkan melalui pendekatan konsensus antar negara anggota. IORA berdiri berdasarkan pada pilar – pilar ekonomi, keamanan dan keselamatan maritim, dan pendidikan serta kebudayaan.

Prioritas kerja sama dalam IORA adalah: (i) Keselamatan dan Keamanan Maritim; (ii) Fasilitasi Perdagangan; (iii) Manajemen Perikanan; (iv) Manajemen Risiko Bencana Alam; (v) Kerja Sama Akademis dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; (vi) Pertukaran Kebudayaan dan Pariwisata. Di luar prioritas tersebut, IORA juga mengangkat dua cross cutting issues yaitu Blue Economy dan Women Empowerment.

Indian Ocean Rim Association (IORA) berdiri secara resmi pada 6 – 7 Maret 1997. Pada awalnya, organisasi ini bernama Indian Ocean Rim Association for Regional Cooperation (IOR-ARC). Tetapi, pada Pertemuan Tingkat Menteri ke – 13 di Perth, nama IOR – ARC dirubah menjadi IORA untuk meningkatkan kesadaran publik bahwa forum ini adalah pemersatu negara-negara Samudera Hindia sebagai satu kawasan.

Tujuan utama pendiriannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan seimbang bagi seluruh negara anggota dan menciptakan landasan yang kuat bagi kerja sama ekonomi regional melalui upaya-upaya fasilitasi perdagangan dan menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan.

Saat ini, IORA beranggotakan 21 negara yaitu Afrika Selatan, Australia, Bangladesh, Komoros, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Persatuan Emirat Arab, Seychelles, Singapura, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand dan Yaman.

Selain itu, IORA juga menggandeng 7 negara mitra dialog, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Mesir, Perancis dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Terdapat juga 2 organisasi peninjau di IORA yaitu Indian Ocean Tourism Organization (IOTO) dan Indian Ocean Research Group (IORG).

Saat ini, Indonesia menjabat sebagai ketua IORA. Di bawah kepimpinan Indonesia, IORA bertumbuh pesat pada beberapa tahun terakhir. Pencapaian yang diraih dapat dilihat pada perkembangan organisasi yang menjadi lebih luas dan dalam serta perluasan keanggotaan.

Indonesia secara resmi memegang keketuaan IORA periode 2015 – 2017 dengan Afrika Selatan sebagai Wakil Ketua pada Pada Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke – 15 di Padang. Indonesia adalah satu-satunya ketua IORA yang menetapkan tema selama masa keketuaan, yaitu ” Strengthening Maritime Cooperation for Peaceful, Stable, and Prosperous Indian Ocean”.

Gagasan dan prakarsa strategis Indonesia pada masa keketuaannya yang telah disetujui: (i) membentuk IORA Concord sebagai outcome strategis 20 tahun IORA; dan (ii) penyelenggaraan KTT IORA (one-off) pada Maret 2017. Dalam kapasitasnya tersebut, Indonesia menetapkan prioritas untuk memperkuat regionalisme di kawasan Samudera Hindia melalui pembentukan IORA Concord, pengarusutamaan gagasan Poros Maritim Dunia, memajukan kerja sama IORA dan isu lintas sektoral dan melanjutkan penguatan institusi.

Pada 7 Maret 2017, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) IORA. Berdasar informasi dari Kementerian Luar Negeri RI, ada 16 kepala negara dan atau pemerintahan asing sudah memastikan akan hadir dalam KTT IORA 2017 di Jakarta. Dari 16 kepala negara/pemerintahan yang telah mengonfirmasi hadir, terdiri dari lima presiden, empat wakil presiden, empat perdana menteri, dan tiga wakil perdana menteri.

KTT IORA 2017 akan dihadiri sekitar 477 orang, meliputi para pemimpin negara, perdana menteri, dan menteri luar negeri, termasuk Presiden Afrika Selatan, Perdana Menteri (PM) Malaysia, PM Australia, Wakil Presiden India, pemimpin Sri Lanka, dan pemimpin Bangladesh.

Pada acara KTT IORA 2017, tema yang diangkat dalam Pertemuan IORA yang digelar pada masa keketuaan Indonesia itu adalah Strengthening Maritime Cooperation for Peaceful, Stable, and Prosperous Indian Ocean (Memperkuat Kerja Sama Maritim untuk Kawasan Samudera Hindia yang Damai, Stabil, dan Makmur).

Secara lebih jelas tema tersebut akan membahas terkait permasalahan keamanan dan keselamatan maritim, fasilitasi perdagangan investasi, manajemen risiko bencana, manajemen perikanan, akademi dan IPTEK, serta pariwisata dan pertukaran budaya. Turut dibahas juga terkait perkara pemberdayaan perempuan dan masalah Blue Economy.

Terkait Blue Economy, Professor V.N Attri selaku Ketua Indian Ocean Studies pada artikelnya yang bertajuk An Emerging New Development Paradigm of the Blue Economy in IORA; A Policy Framework for the Future, menyebut bahwa paradigma pembangunan itu muncul karena melihat bahwa ada peluang untuk meningkatkan PDB negara melalui konsep ekonomi kelautan (biru). Terutama di wilayah Samudera Hindia.

Secara umum, konsep ekonomi biru mirip dengan green economy atau ekonomi hijau. Yaitu meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial dan secara signifikan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis.

Samudera sendiri sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena samudera memberikan keamanan pangan dan pendapatan bagi jutaan orang. Bahkan juga menjadi “jalan raya” untuk perdagangan global.

Teknologi baru yang akan datang yang membuka jalan bagi interaksi manusia dengan lautan. Bahkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan membawa manfaat bagi masyarakat. Tercatat ada sekitar 350 juta pekerjaan yang terkait dengan lautan. Juga perdagangan internasional seperti ikan yang meliputi 85 negara dan menghasilkan sekitar 102 M Dolar Amerika per tahun. Bahkan ada sekitar 9 miliar Dolar Amerika yang dihasilkan dari ekowisata yang terkait dengan terumbu karang.

Untuk itu, diharapkan kedepannya, Indonesia bakal menjadi pemimpin di Samudera Hindia. Indonesia bersama negara IORA dinilai perlu menunjukkan bahwa kepemimpinan Indonesia bukan hanya di Asia Pasifik, tapi juga di Samudera Hindia.

Mengutip penutup dari mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas saat pertemuan pertama IORA pada 6 Maret 1997 di Mauritius, dia menyebut peranan negara pesisir Samudera Hindia sangat penting. Bahkan IORA akan memegang peranan penting di masa depan. Seperti yang sudah terjalin sejak nenek moyang dahulu kala. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here