Home Opini Pilkada DKI dan Nalar yang Koyak

Pilkada DKI dan Nalar yang Koyak

Oleh Fatah Sidik

0
SHARE
logical fallacies | ist

Dinamika Pilkada DKI tak lepas dari bumbu-bumbu hoax. Determinasinya di media sosial (medsos) dan berupaya mencuci otak dengan kepongahan berbasis penalaran yang koyak.

Seperti lima tahun sebelumnya, perbincangan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 juga bising di dunia maya. Tak hanya riil, hoax pun hilir mudik bergantian dan sahut-menyahut.

Narasinya variatif. Makro hingga mikro hadir. Tujuannya satu, menggiring opini, syukur menjadi persepsi. Sehingga, publik, khususnya pemilih di ibu kota, tergiring untuk memilih jagoannya pada kontestasi politik lokal lima tahunan itu.

Kristalisasi opini dalam lubang hitam simulakra dikerjakan berdarah-darah oleh buzzer dan dibuntuti trooper alias akun-akun fana yang picture profile-nya boleh mencopet milik yang nyata. Sebagian, diteruskan akun konkret, termasuk public figure yang terprovokasi.

Tak ayal, kebenaran pun dimonopoli dalam onani wacana mereka. Namun, ketika jagoan yang dikultuskan bak Ubermench balik diserang, mereka meradang laiknya kaum hawa di masa menstruasi.

Pada wacana-wacana narsistik dan ofensif, polanya sama: bertumpu pada logical fallacies dan kekeliruan silogisme. Pisau epistemologi yang digunakan tumpul berkarat.

Baginya, itu tak soal. Yang prioritas, kuantitas dan produksi ulang nan usang tiada henti seperti amoeba yang terus membelah diri. Rotasi wacana harus terus menggelinding. Meminjam konsep Antony Giddens, menjadi juggernaut lepas kontrol.

Beberapa contoh dalam melihat realitas–atau fenomena hiperealitas–itu, adalah ketika awak Partai Solidaritas Indonesia (PSI) usai blusukan ke beberapa sudut Jakarta dan menyimpulkan, jika suasana ibu kota amburadul saat ditinggal Ahok cuti, karena ikut pilkada.

Fakta ini, kemudian menjadi dalil mengapa Ahok-Djarot harus memimpin Jakarta kembali untuk lima tahun kedepan.

Secara tak sadar, klaim tersebut justru menjadi oposisi biner pernyataan Ahok yang ogah disebut “one man showsaat menjadi gubernur.

Sejatinya, jika memang Ahok-Djarot kaffah memimpin Jakarta pada periode pertamanya, masalah tersebut tidak lah muncul dipermukaan. Namun, apa lacur. Fakta yang diungkit PSI ini malah memeloroti bobroknya manajemen birokrasi dalam beberapa tahun terakhir. Tak heran, Ahok-Djarot dapat banyak rapor merah.

Anies Baswedan beberkan raport merah Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Ahok-Djarot pada Debat Kandidat kedua Pilkada DKI 2017 | ist
Anies Baswedan beberkan raport merah Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Ahok-Djarot pada Debat Kandidat kedua Pilkada DKI 2017 | ist

Dan yang tak kalah nyeleneh, adalah analisis Bonnie Setiawan di Indoprogress bertajuk “Ahok Melawan: Apa yang Sebenarnya Terjadi?”. Di situ disebutkan dengan gamblang, jika Ahok-Djarot sedang berjuang melawan dua kekuatan oligarki rente besar, Agus-Sylvi yang mewakili kekuatan SBY dan Anies-Sandi yang mewakili Prabowo.

Hipotesa itu dibangun dari munculnya Front Pembela Islam (FPI) yang dianalogikan dengan aliansi ormas yang beken dengan kepremanannya serta peran kelompok militer. Kedua subjek juga disebut sebagai anjing penjaga utama dari kapitalisme primitif Indonesia.

Analisis tersebut jelas-jelas menutup fakta lain, khususnya yang berjalan beriringan dengan Ahok-Djarot. Eks Ketum DPP Hanura, Wiranto, misalnya. Yang santer disebut-sebut membidani lahirnya FPI pada 1999 silam.

Belum lagi elite politik lain yang menyokong Ahok-Djarot, seperti “Papa” Novanto dan Surya Paloh. Apalagi, lawan politik Ahok di Kebon Sirih–yang sebelumnya disebut sebagai mafia anggaaran–mayoritas mendukung petahana.

Pemikiran Bonnie tersebut juga dengan mudah dipatahkan melalui kebijakan yang dikeluarkan Ahok selama memimpin ibu kota. Nonton saja “Rayuan Pulau Palsu” dan “Jakarta Unfair” besutan WatchDoc.

Dalam film Jakarta Unfair, itu juga menjadi antitesa dari klaim loyalis Ahok, Rudi Valinka alias @kurawa, yang membantah Ahok fasis. Padahal, banyak aparat bersenjata dan kekuatan negara lain dikerahkan untuk merontokkan pemukiman kaum papa. Baca saja laporan LBH Jakarta tahun 2015 soal penggusuran di DKI.

Tweet Kurawa yang klaim ahok anti-fasis | Twitter
Tweet Kurawa yang klaim ahok anti-fasis | Twitter

Ng*hek? Memang! Mengutip lirik Homicide, “Fasis yang baik adalah fasis yang mati! (Puritan (God Blessed Facist)”.

Pada bagian awal telah disebutkan hipotesa dari tulisan ini, hegemoni diskursus yang dilontarkan bertujuan untuk menggiring opini untuk menggerek simpati publik ke jagoannya.

Namun, kita juga patut skeptis dengan rentetan pembenaran yang mereka gembar-gemborkan. Menukil analisis Rocky Gerung, bila demokrasi mempunyai mekanisme koreksi. Jangan-jangan ada kebohongan yang sedang disembunyikan dibalik pembenaran itu.

Bagi penulis, memang perlu diluruskan segala wacana yang mereka buat. Namun, tak perlu serius hingga masuk hati, karena masih ada yang lebih urgent. Sikap santai Anies melalui “Tweet Jahat”, mungkin bisa ditiru. Sebab, menyalin Homicide dalam “Semiotika Rajatega”, “Kalian para martir hiphop, patriot t*i kucing yang membela lubang pant*t logika dengan darah.” (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here