Home Hukum TNI AU: Pelanggaran Batas Wilayah Udara Sudah Berkurang

TNI AU: Pelanggaran Batas Wilayah Udara Sudah Berkurang

0
SHARE
Dua pesawat Sukhoi beratraksi di atas perahu pinisi pada pembukaan Makassar International Eight Festival and Forum (F8) di Pantai Losari Makassar. Foto: Antara/Yusran Uccang

MALANG – TNI Angkatan Udara menegaskan pelanggaran batas wilayah udara di Indonesia semakin berkurang. Kepala Dinas Penerangan (Dispen) TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya menyebut pada tahun 2017 sudah tak ada lagi pelanggaran udara.

“Tahun 2016 masih ada beberapa pesawat asing yang tidak memilik izin melintas di udara Indonesia. Dan untuk tahun 2017 ini sudah tidak ada lagi,” ungkap Jemi kepada wartawan di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Kamis (30/3).

Jemi menjelaskan hal tersebut karena ada pengoptimalan radar dan pengamanan di beberapa titik di Indonesia. “Kita sudah menyiagakan pesawat-pesawat tempur di beberapa skadron, salah satunya di Pekanbaru. Kita juga telah mengoptimalkan radar menjadi 24 jam di beberapa titik. Dan radar sipil saat ini sudah terintegrasi dengan radar militer, sehingga pesawat yang masuk terpantau semua,” ungkapnya.

Jemi menyebutkan, sebelumnya pelanggaran batas wilayah udara banyak terjadi pada tahun 2015. Jemi pun mencontoh tindakan yang dilakukan terhadap pesawat-pesawat asing yang tak memiliki izin tersebut. Salah satunya force down atau penurunan paksa pesawat di wilayah Tarakan, Kalimantan Utara.

“Contoh tugas yang dilaksanakan oleh pesawat Sukhoi yang ada di Skadron 11 yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di wilayah Tarakan. Sehingga saat itu dilakukan force down terhadap pesawat asing yang masuk tanpa izin,” ungkapnya.

Sebelumnya diketahui, Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, melalui Danflight Mayor (Pnb) Setyo Budi mencatat pelanggaran batas wilayah udara paling banyak dilakukan pesawat militer dan pesawat tanpa jadwal dari negara lain. Pesawat-pesawat tersebut masuk dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (Alki) 2, yakni Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok, yang hanya bisa dideteksi oleh radar militer.

“Mereka memanfaatkan Alki 2, ketika dideteksi oleh radar militer sudah banyak. Itu hanya bisa dideteksi oleh radar militer,” ucap Setyo Budi di Lanud Hasanuddin, Sulsel, Rabu (29/3).

Setyo menyebut pesawat Australia dan Amerika Serikat (AS) sering melintas di wilayah udara Indonesia. Setyo menjelaskan pesawat-pesawat tersebut masuk dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (Alki) 2 yakni Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok yang hanya bisa dideteksi oleh radar militer.

“Mereka memanfaatkan Alki 2, ketika dideteksi oleh radar militer sudah banyak. Itu hanya bisa dideteksi oleh radar militer,” ucap Setyo.

Selain itu, pesawat-pesawat tersebut juga memanfaatkan daerah-daerah yang tidak terpantau oleh ground radar. Menurut Setyo, di Indonesia belum semua daerah terpantau oleh ground radar.

“Karena di Indonesia itu belum 100 persen semua ter-cover, masih ada yang namanya blank area. Ada juga yang terpantau radar sipil namun tidak 100 persen seperti radar militer,” kata Setyo.

Oleh karena itu, Skadron 11 mempunyai kegiatan operasi pengamanan di pulau terluar Indonesia. “Kita sering operasi di Kupang, Jayapura, dan Tarakan,” ucap Setyo. (NG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here