Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Jumat, 27 November 2020

 

 

Anggota Komisi VII: Akurasi Deteksi Erupsi Gunung Merapi Perlu Dipertajam

EP / Parlemen / Jumat, 20 November 2020, 21:05 WIB

BPPTKG menaikkan status Gunung Merapi dari level waspada menjadi siaga. Warga diminta waspada dengan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi.

JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman meminta kepada Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta agar mempertajam akurasi ketika mendeteksi terjadinya aktivitas erupsi dari Gunung Merapi.

Akurasi ini penting dipertajam agar tidak menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat.

"Menurut saya deteksi erupsi Gunung Merapi saat ini kehati-hatiannya terlalu tinggi. Karena sebetulnya volume kawah lava kan 10 juta-an meter kubik, sedangkan laju keluarnya magma ke permukaan masih di bawah 3 juta, tapi statusnya sudah siaga tiga," ujar Gandung saat pertemuan dengan BPPTKG dengan BNPB di Yogyakarta, Kamis (19/11/2020).

Ia mengatakan, jangan sampai karena peningkatan status siaga yang terlalu cepat, menyebabkan masyarakat terlalu lama mengungsi.

"Saya ingin dalam memantau aktifitas erupsi gunung merapi tetap memperhatikan faktor kehati-hatian. Kalau memang membutuhkan alat-alat untuk menunjang kinerja, kita pasti akan perjuangkan anggaran pengadaannya di rapat Komisi VII DPR RI," imbuhnya.

Komisi VII DPR RI saat ini juga sedang dalam proses mengkaji pembentukan badan riset yang terpusat. Mengingat, selama ini riset masih terpencar dan tidak fokus. Mudah-mudahan dengan terbentuknya badan ini kelak, bisa membantu akurasi penetapan siaga Gunung Merapi.

Dalam kesempatan itu, Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaidah mengatakan, teori volkanologi belum ada yang bisa mengatakan kapan terjadinya erupsi. Begitupula dengan teknologi yang ada saat ini pun debul mampu mendeteksi kapan erupsi Gunung Merapi.

"Jadi saat ini, kami melalui data pemantauan baik seismik maupun deformasi masih tinggi dan aktivitas guguran meningkat. Ini menunjukkan dekatnya waktu erupsi. Jadi kami bersikap, berdasarkan pengalaman membuat skenario bahaya terburuk sesuai dalam rencana Kontijensi BPBD Lingkar Merapi dengan skenario antara prakiraan bahaya status siaga yang saat ini diterapkan," jelasnya. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya