Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Rabu, 21 Agustus 2019

 

 

Bila Perang Dagang Berlanjut, Pertumbuhan Perekonomian Dunia Akan Turun 0,5%

TK / Ekonomi / Minggu, 30 Juni 2019, 13:40 WIB

Menkeu Sri Mulyani Indrawati didampingi Menlu Retno Marsudi menyampaikan keterangan pers di Hotel New Otani, Osaka, Jepang, Jumat (28/6) sore. | foto: ist

JAKARTA - Forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 telah dibuka pada Jumat (28/06) dini hari di Osaka, Jepang. Sesi pertama dimulai dengan membahas isu paling mengemuka dari pertemuan G-20 ini, yakni mengenai perdagangan ekonomi global dan investasi.

Dikutip dari siaran pers Sekretariat Kabinet RI, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan bahwa sejak awal tahun telah disampaikan proyeksi ekonomi tahun 2019 akan menjadi lebih rendah karena risiko-risiko yg sifatnya negatif telah terjadi.

Dalam hal ini, risiko tersebut diantaranya eskalasi ketegangan perdagangan terutama dari Amerika Serikat dengan RRT (namun sebetulnya secara menyeluruh) dan munculnya sikap-sikap proteksionisme.

Menkeu kemudian menyampaikan jika perang dagang ini berlanjut, maka akan berakibat langsung terhadap pertumbuhan perekonomian dunia.

Ia juga meneruskan pernyataan Christine Lagarde yg menyebutkan pertumbuhan perekonomian dunia akan menurun hingga 0,5% jika perang dagang terus berlanjut.

“Disebutkan oleh pertama, Christine Lagarde yang menyampaikan akibat risiko perang dagang, pertumbuhan ekonomi dunia akan menurun sebesar 0,5%.” ujar Menkeu saat menyampaikan keterangan pers di Hotel New Otani, Osaka, Jepang, Jumat (28/06).

Menkeu kemudian menjelaskan dampak penurunan ini merupakan risiko besar bagi dunia, karena 0,5% GDP dunia bernilai lebih besar dari satu perekonomian negara seperti negara Afrika Selatan.

“Dengan demikian, yang tahun ini sudah 3,5% dan tahun depan diharapkan bisa lebih baik mencapai 3,6%, jika perang dagang ini terus berjalan maka pertumbuhannya hanya akan mencapai 3,1%. Sebesar 0,5% GDP dunia nilainya lebih besar dari satu ekonomi seperti South Africa, jadi risikonya ini sangat besar.” jelas Menkeu. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya