Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Kamis, 20 Juni 2019

 

 

Dituding Gelembungkan 22 Juta Suara, Ini Tanggapan KPU

EP / Politik / Kamis, 13 Juni 2019, 15:02 WIB

Komisioner KPU Pramono Ubaid | foto: ist

JAKARTA - BPN Prabowo Sandi menyebut KPU menggelembungkan 22 juta perolehan suara dalam Pemilu 2019.

Hal tersebut dimasukkan dalam laporan sengketa hasil Pilpres atau gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Menanggapi hal tersebut, Komisioner KPU Pramono Ubaid mengaku heran mengapa keberatan BPN baru dilakukan saat ini, tidak selama rekapitulasi berjenjang.

Pramono mengatakan proses rekapitulasi berjenjang dari kecamatan hingga nasional yang dihadirkan oleh setiap saksi dari paslon capres-cawapres dan partai politik itu berjalan dengan baik.

Ia menuturkan tidak pernah ada yang keberatan dengan perolehan suara dari salah satu saksi paslon capres.

"Kami tidak pernah menerima keberatan soal perolehan suara dari salah satu saksi Paslon. Rata-rata keberatan muncul dari saksi parpol. Kalaupun ada, keberatan dari saksi paslon, tidak pernah menyoal perolehan suara, yang ada hanya menyoal jumlah pemilih, jumlah pengguna hak pilih, jumlah surat suara, jumlah suara tidak sah. Hampir tidak pernah menyoal perolehan suara," kata Pramono saat dikonfirmasi, Kamis (13/6/2019).

Karena itu, Pramono menilai tudingan tim hukum Prabowo-Sandi itu terasa aneh. Dia mempertanyakan kenapa tudingan itu tidak disampaikan dalam forum rekap berjenjang saat rekapitulasi.

"Jadi aneh kalau tiba-tiba sekarang menyebut KPU menggelembungkan perolehan suara salah satu paslon. Lha waktu rekap berjenjang kok nggak ada keberatan sama sekali?" ujarnya.

Meski begitu, Pramono mengatakan pihaknya telah siap dan akan membuktikan tudingan-tudingan tim hukum Prabowo tidak benar. Dia menegaskan tudingan penggelembungan suara itu tidak relevan.

"Tapi oke lah, namanya juga menggugat. Maka KPU nanti akan membuktikan dalam sidang-sidang PHPU di MK, bahwa gugatan itu sama sekali tidak berdasar sama sekali, tidak didukung bukti yang relevan," tegas Pramono.

Sebelumnya, Capres dan cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menuding Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelembungkan suara pasangan Jokowi-Ma'ruf mencapai 22 juta suara.

Prabowo menganggap, bila tidak ada penggelembungan suara, dialah yang menang Pilpres 2019. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya

Rabu, 19 Juni 2019, 11:34 WIB

Jokowi Hadiri Rakernas PDIP di Diponegoro