Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Kamis, 20 Juni 2019

 

 

Fadli Zon Dorong Pemerintah Bentuk TGPF Insiden 22 Mei

TK / Parlemen / Rabu, 12 Juni 2019, 09:40 WIB

Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) Fadli Zon | foto: ist

JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) Fadli Zon mendorong pemerintah untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengusut tuntas insiden kerusuhan 22 Mei yang lalu.

Fadli Zon beranggapan bahwa saat ini pemerintah sangat tertutup dalam melakukan penyelidikan, dan membuat kabur beberapa bagian kejadian saat itu. Sehingga masyarakat dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam fenomena tersebut.

Hal ini ia sampaikan langsung seusai memimpin Rapat Paripurna DPR RI beragendakan tanggapan Pemerintah terhadap pandangan Fraksi-Fraksi atas Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN TA 2020 di Gedung Nusantara II DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Fadli menjelaskan, usulan pembentukan TGPF juga sebenarnya berdasar dari permintaan Anggota Dewan yang lain.

“Sebetulnya saya pikir ini adalah suatu usulan yang baik, karena kita ingin semuanya ada kejelasan, bagaimana latar belakang dan siapa pelaku, dan siapa yang menjadi korban. Kerugian-kerugian seperti apa itu sangat baik, tetapi tergantung dari mekanisme yang ada di DPR sendiri, sangat tergantung daripada pengusul. Kalau tidak salah pernah juga diusulkan oleh beberapa anggota,” sebut Fadli.

Ia menjelaskan bahwa usulan pembentukan TGPF ini juga harus terdiri dari civil society (masyarakat sipil) dan stakeholder terkait, sehingga dapat terbentuk satu independensi dan akhirnya dapat mengungkap realita peristiwa yang terjadi pada aksi kerusuhan tersebut yang menimbulkan banyak korban.

“Saya kira harus lebih holistik tidak menjadi satu versi, tentu kalau versi Pemerintah sangat bias. Harusnya dibentuk suatu Tim Gabungan Pencari Fakta terdiri dari semua unsur, kemudian menyelidiki. Menurut saya harus ada penelitian mendalam, bukan satu versi saja, kalau satu versi pasti akan ada conflict of interest. Siapa yang dirugikan, framing-framing terhadap pelaku, apalagi Pemerintah juga merupakan bagian dari aktor politik yang sedang berlangsung,” tukas Fadli. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya