Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Rabu, 16 Oktober 2019

 

 

Menteri ESDM: Cegah Perubahan Iklim dengan Energi Bersih

EP / Nasional / Selasa, 17 September 2019, 20:33 WIB

Ilustrasi | foto: ist

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengingatkan akan besarnya kontribusi sektor energi dalam mengatasi perubahan iklim global.

Jonan pun menyikapinya dengan mengimplementasikan berbagai kebijakan srategis, terutama di subsektor Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Salah satu penyebab global warming yang paling besar itu diakibatkan oleh (sektor) energi, terutama kelistrikan," ujar Jonan saat menyampaikan orasi ilmiah di Bandung, awal pekan lalu.

Jonan menceritakan dampak langsung dari adanya peningkatan suhu global. Sepuluh tahun lalu saat dirinya masih bertugas di Kereta Api, udara di Bandung masih sejuk. Saat ini kondisinya sudah berubah.

"Pengaruhnya banyak sekali, pastinya ekosistem berubah," ungkap Jonan.

Kesepakatan di Persatuan Bangsa - Bangsa (PBB), sambung Jonan, semua negara berusaha mencegah peningkatan suhu global secara rata-rata 1- 1,5 derajat celcius sampai tahun 2030. Untuk itu, Pemerintah akan memegang komitmen penuh atas Kesepakatan Paris tahun 2015.

"Oleh karena itu, tahun depan untuk kendaraan bermesin diesel kita terapkan B30," jelas Jonan.

Jonan mengakui sampai ini, porsi bauran energi nasional masih masih didominasi oleh energi yang berasal dari Batubara. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi kontributor terbesar penghasil listrik dengan porsi lebih dari 50%.

Untuk menekan dominasi sumber energi tersebut, Pemerintah akan menggenjot pembangunan pembangkit listrik yang meminimalisir adanya emisi gas rumah kaca.

"Orang sekarang mulai protes, pembangunan kok banyak menggunakan tenaga uap dari batubara. Makanya, saya mengatakan akan banyak membangun (pembangkit) bersih dan ramah lingkungan, seperti PLT Bayu, PLT Air dan yang paling mudah adalah PLTS Atap," ungkapnya.

Jonan optimis PLTS Atap akan lebih mencapai harga yang efisien dan mudah dijangkau pada masa mendatang.

"Sekarang investasinya memang masih relatif mahal kira-kira Rp 15 juta. Tapi kalau ini bisa ekspor impor (listrik antara pemilik rumah dengan PLN) biaya investasi solar rooftop jadi lebih terjangkau. Mudah-mudahan kita membantu mengurangi tingkat emisi dan pemanasan global," tegasnya.

Langkah lain yang diambil Pemerintah adalah mempercepat kehadiran kendaraan listrik. Jonan berharap dukungan dari para generasi muda dalam mengeksekusi kebijakan tersebut.

"Kalau mayoritas anak muda sepakat, ini ada harapan. Semua penemuan baru itu tergantung dari yang eksekusi. Kalau generasi muda menerima, akan berkembang," pungkasnya. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya



Selasa, 15 Oktober 2019, 22:33 WIB

Menag Resmikan Kampus Baru UIN Mataram