Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Senin, 25 Januari 2021

 

 

Pembelajaran Tatap Muka Harus Menerapkan Prokes secara Ketat

TK / Parlemen / Sabtu, 28 November 2020, 12:43 WIB

Ilustrasi | foto: ist

JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Muhamad Nur Purnamasidi mengatakan, dirinya mendukung kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang membolehkan digelarnya pembelajaran tatap muka mulai semester genap pada Tahun Ajaran 2020-2021 dengan syarat protokol kesehatan wajib diketatkan.

“Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Namun hal itu harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat,” ujar Nur Purnamasidi saat memimpin tim kunjungan kerja spesifik Komisi X DPR RI di Kantor Walikota Tanggerang Selatan, Jum’at (27/11/2020).

Ia menegaskan, pemerintah harus benar-benar memastikan syarat-syarat pembukaan sekolah tatap muka terpenuhi. Di antaranya ketersediaan bilik disinfektan, sabun dan wastafel untuk cuci tangan, hingga pola pembelajaran yang fleksibel. 

Penyelenggara sekolah juga harus memastikan bahwa physical distancing benar-benar diterapkan dengan mengatur letak duduk siswa dalam kelas, waktu belajar juga harus fleksibel.

“Misalnya siswa cukup datang sekolah 2-3 seminggu dengan lama belajar 3-4 jam saja,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga perlu mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit untuk memastikan sarana prasarana protokol kesehatan benar-benar tersedia di sekolah-sekolah.

“Jangan sampi ketika sekolah sudah di buka kembali syarat protokol kesehatan tidak terpenuhi. Sehingga membuat klaster baru Covid-19,” harapnya.

Dibolehkannya kembali untuk proses belajar mengajar secara tatap muka memang sangat dibutuhkan, terutama di daerah-daerah yang akses internetnya tidak ada.

Mengingat, sampai saat ini pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa berjalan efektif karena minimnya sarana prasarana pendukung, seperti ketiadaan smartphone dan akses internet yang tidak merata.

“Kami sempat mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, siswa selama pandemi Covid-19 benar-benar tidak bisa belajar karena sekolah ditutup. Bukan tidak mungkin hal ini akan memunculkan ancaman loss learning atau kehilangan masa pembelajaran bagi sebagian besar peserta didik di Indonesia,” ujar politisi Fraksi Partai Golkar itu.

Jika terus menerus terjadi loss learning, dan tidak dicari solusinya, maka akan memunculkan efek domino. Dimana peserta didik akan kehilangan kompetensi sesuai usia mereka.

Pembukaan sekolah dengan pola tatap muka tentunya akan mengembalikan ekosistem pembelajaran bagi para peserta didik mengingat hampir satu tahun ini, sebagian peserta didik tidak merasakan hawa dan nuansa sekolah tatap muka.

“Kondisi ini membuat peserta didik kehilangan rutinas dan kedisplinan pembelajaran. Membuka  kembali sekolah dengan berinteraksi langsung antara guru dan peserta didik akan membuat mereka kembali pada rutinitas dan mindset untuk kembali belajar,” tuturnya. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya


Sabtu, 23 Januari 2021, 14:18 WIB

Vaksin Merah Putih Diproduksi 2022