Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Rabu, 21 Agustus 2019

 

 

Polisi Pastikan Tak Ada Bekas Kekerasan di Tubuh Paskibraka yang Meninggal

EP / Nasional / Selasa, 13 Agustus 2019, 18:44 WIB

Kapolres Tangsel AKBP Ferdi Irawan dalam konferensi pers di Polres Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019). | foto: ist

TANGERANG - Polres Tangerang Selatan mengungkap hasil penyelidikan atas meninggalnya calon anggota Paskibra Tangsel Aurellia Quratu Aini.

Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan yang menyebabkan kematian siswi SMA Islam Al Azhar BSD tersebut.

Kapolres Tangsel AKBP Ferdi Irawan mengatakan, penyelidikan dilakukan dengan menggali keterangan 30 saksi, baik dari pihak keluarga, teman sekolah, dokter, petugas pemandian jenazah, pelatih Paskibra Tangsel, dan lainnya yang terkait.

"Belum kita temukan, dari keterangan saksi-saksi, yang menyatakan adanya tindakan kekerasan terhadap almarhumah," kata Ferdi dalam konferensi pers di Polres Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).

Hadir dalam jumpa pers ini Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany, Komisioner KPAI Jasra Putra, dan pemerhati anak Seto Mulyadi.

Ferdi menjelaskan, Aurellia dinyatakan meninggal pada Kamis (1/8) pukul 04.30 WIB. Berdasarkan keterangan orang tua, Aurellia saat itu sedang bersiap-siap untuk mandi.

"Tiba-tiba ketika keluar kamar terjatuh, saat dibawa ke rumah sakit di Tangerang Kota, sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter dan perawat yang menanganinya," ujar Ferdi.

Polisi kemudian menyelidiki kematian korban ini dengan memeriksa 30 orang saksi. Di antaranya adalah orang tua korban, petugas yang memandikan jenazah korban, serta beberapa teman-teman sesama Paskibraka yang sama-sama menjalani pelatihan paskibra di Tangerang Selatan.

"Kami juga sudah mengambil keterangan dari pelatih PPI, yang sehari-hari melatih para siswa paskibra ini dan termasuk juga pelatih yang berasal dari unsur TNI," imbuhnya.

Polisi juga meminta keterangan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Tangsel selaku penanggung jawab kegiatan Paskibraka.

"Dari hasil klarifikasi dan keterangan keterangan yang kami kumpulkan, dapat kami jelaskan bahwa pertama, kondisi Aurellia pada waktu mendaftar paskibra dan mengikuti latihan sebelum meninggal, ini dalam keadaan sehat, itu dinyatakan dari hasil pemeriksaan dari tim dinas kesehatan yang dibentuk pemerintah Kota Tangsel," tuturnya.

Selama pelaksanaan pelatihan, korban dan calon Paskibraka lainnya dilatih oleh pelatih yang ditunjuk Dispora yaitu dari PPI. Adapun, materi pelatihan yang diberikan adalah untuk melatih peraturan baris-berbaris dan untuk meningkatkan ketahanan fisik para calon paskibra agar maksimal dalam proses latihan.

"Kemudian dari keterangan pelatih senior PPI, disampaikan bahwa pola pelatihan yang mereka berikan juga disamping pelajaran baris-berbaris, untuk melatih kedisiplinan dan mental para calon paskibra, ini ada pelatihan pelatihan untuk meningkatkan disiplin mereka, berupa peningkatan disiplin di sela-sela pelatihan dalam hal baris-berbaris," sambungnya.

Ferdi menyebut tindakan untuk meningkatkan disiplin oleh pelatih dari PPI ini merupakan kegiatan bersama-sama sebagai peningkatan ketahanan fisik, seperti melaksanakan lari, atau push up, kemudian ada juga beberapa yang squat jump.

Dari rangkaian penyelidikan tersebut, Ferdi menyatakan pihaknya belum menemukan adanya aksi penganiayaan ataupun tindakan kekerasan yang dialami almarhumah.

"Terhadap sakit sampai dengan meninggalnya Aurellia, dari keterangan keterangan orang tua almarhumah dan orang yang memandikan jenazah termasuk dokter dan perawat yang menangani pertama sekali, keterangan yang mereka berikan sama, bahwa tidak ada bekas-bekas kekerasan yang nampak dari tubuh almarhum.
Artinya belum kita temukan keterangan saksi-saksi yang menyatakan adanya tindakan penganiayaan atau kekerasan terhadap Aurellia.," pungkasnya. (*)

Komentar

 

Berita Lainnya