Follow Us :
Detak.co Facebook Detak.co Facebook Detak.co Facebook

 

Rabu, 08 Juli 2020

 

 

Susun Konsep New Normal Bareng Pakar, Gubernur Edy: Saya Tidak Terburu-buru

EP / Regional / Selasa, 02 Juni 2020, 16:25 WIB

Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi | foto: ist

MEDAN - Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi mengatakan pihaknya masih menyusun konsep penerapan kenormalan baru atau new normal di tengah pandemi Corona.

Edy mengatakan pihaknya mendengarkan masukan dari berbagai pakar dalam menyusun konsep new normal di Sumut.

"Ini sedang disusun. Inilah kita pertemuan dengan pakar pakar ilmiah, dengan para kabupaten membicarakan ini, mana yang untuk kita terapkan karena di Sumut ada 33 kabupaten/kota, itu berbeda-beda kondisinya," kata Edy di rumah dinas Gubsu, Medan, Selasa (2/6/2020).

Edy mengatakan penerapan new normal tak bisa disamakan antara satu wilayah dengan wilayah lain.

Dia mengatakan pihaknya beserta pemerintah kabupaten/kota bakal tetap waspada jika new normal diterapkan nantinya, terutama di 15 kabupaten/kota se-Sumut yang telah diizinkan pemerintah pusat.

"Zona hijau, hidup baru. Hidup baru itu bagian kondisi COVID ini, bagian dari hidup kita. Kita tak bisa menghindar dari ini, untuk itu walaupun dia hijau apa yang bisa dilakukan karena nanti ada orang yang terpapar terus ke sana itu kan bisa kena semuanya," ujarnya.

Edy pun mengaku tak terburu-buru dalam menyusun konsep penerapan new normal di Sumut. Dia mengatakan new normal harus diterapkan dengan aturan yang jelas.

"Banyak sektor yang kita tata ini, makanya saya tidak terburu-buru menentukan new normal ini. Ini harus kita bahas," ucap Edy.

"Nah, harus kita atur nanti, dengan Sumatera Utara ini adalah Sumatera Utara yang mempunyai peraturan. Setiap peraturan ada sanksi, bukan maunya masing-masing," sambung Edy.

Selain itu, Edy kembali menegaskan belum mengizinkan sekolah kembali dibuka untuk kegiatan belajar-mengajar. Edy juga berbicara tentang rencana pihaknya membuka kembali pariwisata di kawasan Danau Toba agar ekonomi warga kembali bergerak.

"Kita coba kita lihat, karena ini bersangkutan dengan perekonomian, nggak bisa juga penghasilan pariwisata itu dari orang singgah, kalau kita tutup terus, orang datang tak makan di situ. Boleh dibuka dengan catatan, ini yang sedang kita susun," pungkas Edy.  (*)

Komentar

 

Berita Lainnya