Airlangga Minta Publik Tak Cemas Defisit APBN 2025 Hampir 3%
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mendekati batas 3 persen.

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mendekati batas 3 persen. Menurutnya, posisi fiskal Indonesia masih relatif aman jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain yang memiliki defisit jauh lebih besar.

Sebagai catatan, defisit APBN Indonesia pada 2025 tercatat mencapai Rp 695,1 triliun atau setara 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Airlangga menilai angka tersebut masih dalam batas wajar dan terkendali.

"Jangan khawatir tentang defisit anggaran 3%. Negara lain dua kali lipat dan mereka tidak khawatir. Jadi mengapa kita harus khawatir tentang hal itu?" ujar Airlangga dalam acara Business Outlook Indonesia Business Council (IBC) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Ia menambahkan, pemerintah telah mengkalkulasi berbagai potensi risiko ekonomi ke depan, mulai dari pergerakan nilai tukar hingga dinamika pasar modal. Dengan perhitungan tersebut, Airlangga menyatakan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional.

Bahkan, menurutnya, lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) juga memiliki pandangan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Tidak ada risiko yang belum kita perhitungkan, baik dalam nilai tukar rupiah maupun di pasar saham. Jadi, ke depannya, saya pikir kita harus optimis. Akan ada banyak kabar baik yang akan datang, dan saya pikir tren global, termasuk IMF, cukup optimis terhadap ekonomi Indonesia," imbuhnya.

Sebagai informasi, defisit APBN terjadi ketika pendapatan negara lebih kecil dibandingkan dengan belanja. Sepanjang 2025, pendapatan negara tercatat sebesar Rp 2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target APBN, sementara belanja negara mencapai Rp 3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu anggaran.

Sebelumnya, Airlangga juga menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah mendorong pertumbuhan ekonomi karena berpengaruh langsung terhadap penciptaan lapangan kerja.

"Defisitnya masih aman, masih di bawah 3%. Yang paling penting kita mengejar pertumbuhan karena pertumbuhan kan kaitannya langsung terhadap employment, penciptaan lapangan kerja, jadi itu yang kita dorong," kata Airlangga kepada wartawan di Jakarta Pusat, Jumat (9/1/2026).