
Bank Jakarta terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro sebagai bagian dari komitmen memperkuat ekonomi kerakyatan di Jakarta. Upaya tersebut diwujudkan melalui Akad Kredit Massal Pedagang Pasar Induk Kramat Jati yang diikuti 100 pedagang d
JAKARTA - Bank Jakarta terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro sebagai bagian dari komitmen memperkuat ekonomi kerakyatan di Jakarta. Upaya tersebut diwujudkan melalui Akad Kredit Massal Pedagang Pasar Induk Kramat Jati yang diikuti 100 pedagang dan disaksikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bersama jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta pemangku kepentingan terkait.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, pembiayaan bagi pedagang pasar tidak hanya berorientasi pada penyaluran kredit, tetapi menjadi bagian dari strategi perseroan untuk menghadirkan layanan keuangan yang semakin mudah dijangkau dan sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
“Bank Jakarta ingin memastikan pedagang memiliki akses terhadap pembiayaan formal yang mudah, sehat, dan terjangkau. Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang,” ujar Agus.
Untuk memperkuat kedekatan tersebut, Bank Jakarta kini telah memiliki 243 Sentra Mikro yang tersebar di berbagai wilayah DKI Jakarta. Kehadiran jaringan tersebut memungkinkan layanan pembiayaan semakin dekat dengan pasar dan sentra-sentra aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut Agus, Sentra Mikro tidak hanya berfungsi sebagai titik layanan pembiayaan, tetapi juga menjadi sarana bagi Bank Jakarta untuk memahami karakteristik usaha dan kebutuhan finansial pelaku usaha secara lebih dekat.
Pembiayaan Rp326 Miliar untuk 2.388 Pedagang
Hingga Juni 2026, Bank Jakarta telah menyalurkan pembiayaan kepada pedagang pasar di berbagai wilayah Jakarta dengan outstanding sekitar Rp326 miliar kepada 2.388 debitur.
Sementara itu, di Pasar Induk Kramat Jati, total penyaluran kredit Bank Jakarta telah mencapai plafon sekitar Rp48 miliar kepada 167 pedagang. Potensi pengembangan pembiayaan di kawasan tersebut masih terbuka lebar, mengingat Pasar Induk Kramat Jati memiliki lebih dari 5.000 tempat usaha dan menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Jakarta.
Untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha dengan karakteristik yang beragam, Bank Jakarta menyediakan sejumlah pilihan pembiayaan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga pembiayaan non-KUR dengan plafon hingga Rp500 juta. Besaran dan skema pembiayaan disesuaikan dengan kebutuhan serta kapasitas usaha masing-masing nasabah.
Agus menekankan bahwa keberhasilan pembiayaan mikro tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kredit yang tersalurkan. Dampak pembiayaan terhadap perkembangan usaha menjadi indikator yang jauh lebih penting.
“Bagi Bank Jakarta, keberhasilan bukan diukur dari seberapa besar kredit yang kami salurkan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pembiayaan tersebut membuat usaha pedagang berkembang, omzet bertambah, lapangan kerja tercipta, dan semakin banyak UMKM Jakarta naik kelas,” jelasnya.
Ke depan, Bank Jakarta akan memperluas peran dalam ekosistem usaha pedagang pasar, tidak berhenti pada penyediaan pembiayaan. Pelaku usaha juga akan terus didorong untuk terhubung dengan layanan keuangan formal, memanfaatkan transaksi digital, serta meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperoleh sumber pembiayaan yang lebih sehat dan terjangkau sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan informal yang berpotensi membebani usaha dengan biaya lebih tinggi.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari sinergi Bank Jakarta dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya dalam membangun ekosistem UMKM yang semakin inklusif dan berkelanjutan.
Kolaborasi lintas pihak diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, mulai dari menjaga keberlangsungan usaha pedagang, menggerakkan rantai pasok, menciptakan lapangan kerja, memperluas inklusi keuangan, hingga memperkuat aktivitas ekonomi lokal Jakarta.
Agus mengatakan, penguatan segmen usaha mikro sejalan dengan transformasi Bank Jakarta untuk menjadi bank yang tidak hanya semakin modern dan digital, tetapi juga semakin dekat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Sebagai bank milik masyarakat Jakarta, transformasi Bank Jakarta tidak boleh hanya membuat kami semakin besar, semakin modern, dan semakin digital. Transformasi harus membuat Bank Jakarta semakin dekat dengan masyarakat dan semakin relevan bagi perekonomian Jakarta,” ungkap Agus.
Menurutnya, pasar rakyat menjadi salah satu ruang strategis untuk menghadirkan manfaat tersebut. Aktivitas ekonomi di pasar tidak hanya berdampak kepada pedagang, tetapi juga melibatkan pekerja, pemasok, distributor, hingga keluarga yang menggantungkan penghidupan dari aktivitas perdagangan.
Bank Jakarta juga berkomitmen untuk terus mendampingi perjalanan usaha nasabah seiring dengan pertumbuhannya. Pelaku usaha yang saat ini berada pada skala mikro diharapkan dapat berkembang menjadi usaha kecil hingga usaha menengah.
“Hari ini mungkin nasabah mikro, besok berkembang menjadi usaha kecil, kemudian menjadi usaha menengah. Bank Jakarta harus tetap hadir dan tumbuh bersama mereka,” tutur Agus.
Melalui perluasan jaringan Sentra Mikro, penguatan pembiayaan produktif, digitalisasi layanan, serta kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan ekosistem pasar, Bank Jakarta akan terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
Info Detak.co | Rabu, 02 September 2026 
