Ekspor CPO Indonesia Tetap Tumbuh Meski Konflik Timur Tengah Ganggu Jalur Pengiriman
Kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia masih menunjukkan tren positif meskipun konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran berdampak pada jalur perdagangan global.

JAKARTA - Kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia masih menunjukkan tren positif meskipun konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran berdampak pada jalur perdagangan global.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyatakan bahwa ekspor produk sawit Indonesia saat ini telah menjangkau 117 negara di seluruh dunia. Ia menyebutkan bahwa volume ekspor mengalami peningkatan dari sekitar 29 juta ton pada 2024 menjadi 35 juta ton pada 2025, yang turut mendorong kenaikan nilai ekspor.

Namun, konflik di Timur Tengah menimbulkan gangguan pada sebagian jalur distribusi, khususnya pengiriman menuju negara-negara yang harus melewati Selat Hormuz. Menurut Eddy, gangguan tersebut berdampak pada ekspor sawit Indonesia ke kawasan Timur Tengah dengan volume sekitar 1,83 juta ton.

Selain itu, industri sawit juga menghadapi kenaikan biaya logistik yang mencapai sekitar 50% di atas tarif normal. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya harga bahan bakar serta risiko perjalanan yang lebih tinggi akibat situasi konflik.

Beberapa kapal kargo bahkan harus memutar jalur pengiriman melalui kawasan Tanjung Harapan di Afrika sebelum menuju Eropa, yang semakin meningkatkan biaya operasional. Meski demikian, Eddy menilai ekspor sawit Indonesia masih dapat berjalan karena permintaan global terhadap produk tersebut tetap tinggi.

Ia juga mengingatkan bahwa jika konflik di Timur Tengah berlangsung lama, maka potensi penurunan permintaan dari negara importir bisa terjadi, terutama jika biaya logistik terus meningkat dan membuat harga produk menjadi lebih mahal.