
Konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah diprediksi akan menekan kinerja ekspor Indonesia pada tahun 2026.
JAKARTA - Konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah diprediksi akan menekan kinerja ekspor Indonesia pada tahun 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso memperingatkan bahwa pertumbuhan ekspor tahun ini terancam lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun 2025 yang berhasil mencatatkan nilai US$ 282,91 miliar (naik 6,15%). Meski permintaan barang dari kawasan Timur Tengah relatif stabil, kendala utama muncul pada lonjakan biaya logistik akibat gejolak harga minyak dan penutupan sejumlah pelabuhan strategis. Hal ini memaksa kapal pengangkut menggunakan rute alternatif yang lebih jauh, sehingga meningkatkan beban operasional para eksportir. Budi menjelaskan situasi tersebut dengan berujar, "Tentu kalau ini (perang) nggak selesai... ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu."
Secara data, wilayah Timur Tengah merupakan pasar penting dengan nilai ekspor mencapai US$ 9,87 miliar pada tahun lalu, di mana Uni Emirat Arab menjadi mitra terbesar (40%) diikuti Arab Saudi (29%) dan Iran (2,5%). Menghadapi tantangan ini, Kementerian Perdagangan telah menyiapkan tiga strategi utama. Pertama, berkolaborasi dengan Dewan Pengguna Jasa Angkut (Dipalindo) untuk mengefisiensikan regulasi logistik. Kedua, melakukan diversifikasi pasar dengan memperluas jangkauan ekspor ke Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin melalui skema business matching. Strategi ketiga adalah mengandalkan kenaikan harga komoditas global, terutama CPO dan batu bara, yang diharapkan mampu mendongkrak nilai ekspor dari sisi harga meskipun volume mungkin terdampak.
Budi optimistis bahwa tren kenaikan harga komoditas tahun ini dapat menjadi bantalan bagi kinerja ekspor nasional. Setelah sempat mengalami penurunan harga yang cukup signifikan pada tahun lalu—di mana CPO turun 16% dan batu bara turun 19%—saat ini keduanya menunjukkan tren penguatan. Peningkatan harga mineral dan perkebunan ini diyakini akan secara otomatis menaikkan nilai devisa hasil ekspor Indonesia. Beliau memungkasi penjelasannya dengan menyatakan, "Sekarang harga komoditas keduanya tahun ini kan mulai naik. Artinya kalau naik berarti ya nilai ekspor kita ya pasti meningkat, pasti meningkatnya."
Info Detak.co | Sabtu, 28 Maret 2026 
