
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang sangat tangguh dalam menghadapi krisis energi dunia. Mengacu pada hasil analisis lembaga keuangan internasional JP Morgan, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan ketahanan terbaik, melampaui negara-negara maju seperti Amerika Serikat, China, hingga Australia.
Selain JP Morgan, lembaga donor Asian Development Bank (ADB) disebut memiliki data serupa yang menempatkan Indonesia di jajaran teratas. Namun, Purbaya mengungkapkan bahwa ADB memilih untuk tidak memublikasikan data tersebut secara luas guna menjaga stabilitas psikologis pasar di negara-negara yang menempati peringkat bawah.
Bantahan atas Kekhawatiran Resesi 1998
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya secara tegas membantah narasi pesimistis yang menyamakan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis moneter 1998. Menurutnya, perbandingan tersebut tidak relevan dan tidak didukung oleh data yang akurat karena beberapa alasan fundamental:
-
Status Pertumbuhan: Pada tahun 1998, Indonesia mengalami resesi selama satu tahun penuh sebelum akhirnya terjadi krisis politik. Saat ini, ekonomi Indonesia justru berada dalam fase ekspansi dan akselerasi.
-
Struktur Ekonomi: Purbaya menilai para analis yang meramalkan pengulangan krisis 98 cenderung mengabaikan perbedaan struktur keamanan ekonomi saat ini yang jauh lebih kuat dan dinamis.
-
Respons Pasar: Masyarakat diimbau untuk tidak merespons krisis energi global secara berlebihan, mengingat instrumen APBN masih cukup kuat untuk meredam dampak tekanan eksternal.
"Kita sekarang boro-boro resesi, masih ekspansi, masih akselerasi. Mereka yang memprediksi 98 akan terjadi lagi mungkin tidak melihat data akurat tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ekonomi kita saat ini," pungkas Purbaya di Kantor Kemenkeu, Selasa (5/5/2026).
Laporan ini ditujukan untuk membangun optimisme publik bahwa Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dalam peta persaingan ekonomi global, meskipun berada di tengah ketidakpastian pasokan energi internasional.
Info Detak.co | Minggu, 10 Mei 2026 
