
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons terkait merosotnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.005 per dolar AS pada Senin (16/3/2026).
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons terkait merosotnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.005 per dolar AS pada Senin (16/3/2026). Meskipun menjabat sebagai Bendahara Negara, Purbaya mengaku heran dengan pelemahan tersebut lantaran ia menilai fondasi ekonomi domestik saat ini sebenarnya sedang dalam performa yang sangat kuat.
Tanggung Jawab Bank Sentral Dalam keterangannya di Jakarta Pusat, Purbaya menegaskan bahwa otoritas yang paling berwenang memberikan penjelasan mengenai fluktuasi mata uang adalah Bank Indonesia (BI). Ia mengingatkan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar merupakan tugas pokok bank sentral. Purbaya enggan berkomentar lebih jauh mengenai penyebab teknis pelemahan tersebut guna menghindari kesan intervensi pemerintah terhadap kebijakan independen BI.
Kontradiksi Fundamental Ekonomi Menkeu menekankan adanya anomali antara kondisi lapangan dengan pergerakan kurs. Menurutnya:
-
Kondisi Ekonomi: Fundamental ekonomi Indonesia sedang tumbuh pesat atau "lari kencang".
-
Ekspektasi Pasar: Dalam situasi ekonomi yang sehat, nilai tukar rupiah seharusnya bergerak menguat, bukan justru melemah terhadap dolar AS.
Data Pasar
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Amerika Serikat menunjukkan dominasi yang kuat dengan kenaikan sebesar 47,50 poin (0,28%) dari posisi penutupan sebelumnya, yang membawa rupiah melewati ambang psikologis Rp 17.000 pada siang hari kemarin.
Info Detak.co | Selasa, 17 Maret 2026 
