AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro Lewat Operasi Rahasia Libatkan CIA dan Delta Force
Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, melalui sebuah operasi militer rahasia yang melibatkan Badan Intelijen Pusat (CIA) dan pasukan elite Delta Force. Operasi tersebut berlangsung pada Sabtu (3/1) dini hari w

WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, melalui sebuah operasi militer rahasia yang melibatkan Badan Intelijen Pusat (CIA) dan pasukan elite Delta Force. Operasi tersebut berlangsung pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.

Mengutip laporan CBS News dan BBC, Minggu (4/1/2026), penangkapan Maduro dilakukan langsung oleh personel Delta Force, unit pasukan khusus militer AS yang biasa menjalankan misi berisiko tinggi. Keberhasilan operasi ini disebut tak lepas dari peran sumber CIA di dalam pemerintahan Venezuela yang memungkinkan AS melacak keberadaan Maduro menjelang penangkapan. Hal itu merupakan bagian dari jaringan intelijen AS yang telah bekerja secara intensif.

Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menjelaskan bahwa operasi tersebut diberi nama “Absolute Resolve” dan telah melalui perencanaan serta latihan selama berbulan-bulan. Menurutnya, faktor cuaca menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum operasi dijalankan.

Dalam pelaksanaannya, AS mengerahkan lebih dari 150 pesawat untuk membawa pasukan menuju ibu kota Venezuela, Caracas. Pasukan dilaporkan tiba dan memasuki kompleks kediaman Maduro—yang oleh Presiden AS Donald Trump disebut menyerupai benteng—pada pukul 02.01 waktu setempat.

Sebelum memasuki kompleks tersebut, pasukan AS memadamkan aliran listrik di Caracas. Maduro disebut sempat berusaha masuk ke ruang aman yang dilindungi baja. Namun, Trump mengungkapkan bahwa upaya tersebut gagal.

Trump menyatakan Maduro sudah berada di depan pintu ruang aman itu, tetapi pintunya tidak dapat tertutup. Ia juga menegaskan tidak ada korban jiwa dari pihak AS dalam operasi tersebut dan hanya terdapat sedikit personel yang mengalami luka-luka.

Setelah ditangkap, Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dibawa menggunakan kapal sebelum diterbangkan ke Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di negara bagian New York.

Operasi ini disebut sebagai intervensi militer AS terbesar di kawasan Amerika Latin sejak era Perang Dingin dan dijalankan dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Bahkan, Kongres AS dilaporkan tidak diberi informasi atau diajak berkonsultasi sebelum operasi berlangsung.

Pejabat militer AS menyebut unsur kejutan menjadi kunci utama keberhasilan misi. Disebutkan pula bahwa terdapat upaya penangkapan yang gagal empat hari sebelumnya setelah mendapat persetujuan Presiden Trump, namun kemudian ditunda demi menunggu kondisi cuaca yang lebih mendukung.

"Selama beberapa pekan menjelang Natal dan Tahun Baru, para pria dan perempuan di militer Amerika Serikat duduk bersiap, dengan sabar menunggu pemicu yang tepat terpenuhi dan presiden memerintahkan kami untuk bertindak," kata Jenderal Dan Caine.

Sebelum operasi dijalankan, intelijen AS telah memantau aktivitas Maduro selama berbulan-bulan. Sebuah tim kecil, termasuk informan di dalam pemerintahan Venezuela, disebut mengetahui detail kehidupan sehari-hari Maduro, mulai dari tempat tidurnya hingga kebiasaan pribadinya.

Pasukan elite AS bahkan dilaporkan membuat replika identik tempat persembunyian Maduro di Caracas untuk keperluan latihan dan simulasi rute penyergapan.

Perintah akhir untuk memulai misi datang dari Trump pada Jumat (3/1) pukul 22.46 waktu AS. Operasi kemudian berlangsung selama sekitar dua jam dua puluh menit melalui jalur udara, darat, dan laut, dan mengejutkan banyak pihak.

"Dia mengatakan kepada kami, dan kami menghargainya, ‘semoga berhasil dan Tuhan memberkati’," ujar Jenderal Caine.

Skala dan ketelitian operasi ini dinilai hampir belum pernah terjadi sebelumnya dan langsung memicu kecaman dari sejumlah kekuatan regional. Negara-negara di Amerika Latin pun menunjukkan sikap berbeda-beda terhadap aksi militer AS tersebut.

Delta Force sendiri dikenal sebagai unit operasi khusus Angkatan Darat AS yang sebelumnya terlibat dalam berbagai misi penting, termasuk operasi tahun 2019 yang menewaskan mantan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Unit ini juga pernah berperan dalam penangkapan Saddam Hussein pada 2003 serta berbagai misi kontra-terorisme di Timur Tengah dan Amerika Latin.