Asap Karhutla Kalimantan Menyeberang ke Malaysia, 108 Sekolah Ditutup
Karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman/)

MALAYSIA - Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) menutup sejumlah sekolah menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Kebijakan tersebut diikuti dengan penerapan Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR) agar kegiatan belajar siswa tetap berlangsung.

Dilansir Bernama, Kamis (20/8/2026), JPBN Sarawak menyatakan penutupan sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak dilakukan berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional. Lembaga pendidikan akan ditutup apabila Indeks Pencemaran Udara (API) mencapai angka 200.

“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200,” kata JPBN Sarawak dalam pernyataannya.

Setelah sekolah ditutup, kegiatan pembelajaran dialihkan ke rumah. Langkah tersebut diambil untuk melindungi siswa dari paparan udara tercemar sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berjalan.

Dalam skala API, angka 0-50 menunjukkan kualitas udara baik, 51-100 masuk kategori sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 tergolong berbahaya.

JPBN Sarawak menyebut kualitas udara di wilayah tersebut menunjukkan tren memburuk sejak awal Agustus. Kondisi itu terlihat dari peningkatan pembacaan API di sejumlah daerah.

Hingga pukul 16.00 waktu setempat, dua wilayah tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat. Tebedu mencatat API 212, sedangkan Serian mencapai 202.

Selain itu, 11 wilayah lainnya berada dalam kategori tidak sehat, yakni Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.

JPBN Sarawak mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan maupun penyakit jantung juga diminta membatasi paparan terhadap udara tercemar.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama kualitas udara di Sarawak masih berada pada level yang mengkhawatirkan.