Bocah 6 Tahun di India Dilaporkan Meninggal Usai Ditampar Guru
Foto: ist

VISAKHAPATNAM - Seorang anak berusia enam tahun, Pranay Tej, dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan usai ditampar seorang guru di dalam ruang kelas di Visakhapatnam, Andhra Pradesh, India.

Peristiwa tersebut terekam kamera pengawas sekolah dan memicu kemarahan publik. Rekaman memperlihatkan seorang guru perempuan memegang pakaian Pranay sebelum menampar wajahnya. Tak lama kemudian, bocah tersebut terlihat jatuh dan kehilangan kesadaran.

Menteri Pendidikan dan Teknologi Informasi Andhra Pradesh, Nara Lokesh, menyatakan pemerintah akan menyelidiki kasus tersebut dan mengambil tindakan terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab.

“Kami sedang mengambil tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab serta pihak manajemen sekolah,” kata Lokesh melalui akun Facebook-nya, seperti dilansir Al Jazeera, Minggu (23/8/2026).

Lokesh juga mengecam segala bentuk hukuman fisik terhadap anak di lingkungan pendidikan. Ia menegaskan kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan mendisiplinkan siswa.

“Sebagai seorang ayah, saya sangat terpukul dengan apa yang menimpa Pranay Tej kecil. Saya tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dialami orang tuanya,” tulis Lokesh melalui akun X pada Jumat.

Ia mengatakan telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh serta meminta tindakan tegas terhadap pihak yang nantinya terbukti bersalah.

Kepolisian Andhra Pradesh turut menyelidiki kronologi kejadian dan penyebab kematian Pranay. Inspektur Polisi Pudi Vara Prasad mengatakan kasus tersebut diproses berdasarkan laporan tertulis yang disampaikan ayah korban.

“Menindaklanjuti laporan tertulis dari ayah bocah tersebut, kami telah mencatat kasus ini berdasarkan Pasal 194 BNSS dan memulai penyelidikan,” ujar Prasad kepada Press Trust of India.

Prasad mengatakan jenazah Pranay telah diserahkan kepada keluarga setelah prosedur pemeriksaan awal dan autopsi selesai dilakukan.

Meski demikian, polisi masih menunggu seluruh hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab pasti kematian bocah tersebut.

“Begitu semua laporan terkait diterima, kami akan menentukan penyebab pasti kematiannya,” katanya.

Ayah Pranay mengatakan kondisi putranya terlihat sehat sebelum berangkat ke sekolah. Menurutnya, Pranay bahkan meminta untuk tetap masuk sekolah pada pagi hari.

“Pada pagi hari sekitar pukul 08.00, putra saya bangun dan bilang ingin pergi ke sekolah. Dia bersikeras untuk tetap masuk sekolah,” ujarnya kepada NDTV.

Kabar kematian Pranay kemudian membuat kerabat berdatangan ke rumah sakit. Mereka mendesak aparat mengambil tindakan tegas terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Kasus tersebut kembali menyoroti praktik hukuman fisik di lingkungan sekolah India. Pemerintah setempat menegaskan bahwa kekerasan terhadap siswa tidak dapat dibenarkan sebagai metode pendisiplinan.

Palla Srinivasa Rao, Ketua Partai Telugu Desam (TDP) Andhra Pradesh, mengatakan pemerintah telah merespons kasus tersebut dengan membentuk sebuah komite untuk menyelidiki kejadian.

“Menteri TI dan Pendidikan kami, Nara Lokesh Garu, telah membentuk sebuah komite, dan berdasarkan laporan komite tersebut, kami pasti akan mengambil tindakan,” kata Rao kepada Press Trust of India.

Sementara itu, studi yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat India, Agrasar, pada 2018 menemukan sekitar 80 persen anak sekolah dari keluarga berpenghasilan rendah di India pernah mengalami hukuman fisik dari guru.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa praktik kekerasan terhadap siswa masih menjadi persoalan, meskipun hukuman fisik di sekolah secara resmi telah dilarang.