
Situasi di Timur Tengah mencapai titik didih setelah militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah titik strategis di Iran pada Selasa (7/4/2026).
JAKARTA - Situasi di Timur Tengah mencapai titik didih setelah militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah titik strategis di Iran pada Selasa (7/4/2026). Serangan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum berakhirnya tenggat waktu (deadline) yang ditetapkan Presiden Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa target utama AS adalah fasilitas militer di Pulau Kharg, yang sebelumnya juga pernah digempur pada pertengahan Maret lalu. Pihak AS mengklaim serangan kali ini difokuskan pada situs pertahanan dan bukan fasilitas minyak, guna melumpuhkan kemampuan logistik militer Iran di kawasan teluk.
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melakukan operasi yang lebih luas dengan menargetkan seluruh jalur transportasi darat di Iran. Serangan proyektil menyasar infrastruktur krusial mulai dari jembatan, rel kereta api, hingga jalan raya utama seperti jalur Tabriz-Teheran dan jalan raya Zanjan. Pihak Israel berargumen bahwa jalur-jalur tersebut digunakan Iran untuk mobilisasi truk pengangkut amunisi dan peluncur rudal. Akibatnya, banyak akses transportasi publik lumpuh total, dan IDF secara resmi mengeluarkan imbauan agar warga sipil Iran menghindari perjalanan menggunakan kereta api demi keselamatan mereka.
Dampak dari serangan terkoordinasi ini mulai memicu jatuhnya korban jiwa dan kerusakan pada fasilitas sipil. Kantor berita Mehr melaporkan setidaknya dua orang tewas akibat hantaman proyektil pada jembatan kereta api di kota Kashan. Selain itu, Palang Merah Iran melaporkan adanya serangan di jalur kereta api Karaj serta jembatan di Provinsi Qom. Media lokal IRNA juga menyebutkan bahwa area perumahan dan komersial di beberapa kota turut terdampak, yang memicu kekhawatiran akan krisis kemanusiaan yang lebih dalam di tengah zona perang.
Presiden Donald Trump tetap pada pendiriannya dengan menetapkan batas waktu akhir pada Selasa malam pukul 20.00 waktu AS (atau Rabu dini hari waktu Iran). Trump menuntut Teheran untuk segera menyetujui gencatan senjata, melepaskan program senjata nuklir, dan membuka Selat Hormuz tanpa syarat. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi hingga waktu yang ditentukan, AS mengancam akan melancarkan serangan "neraka" yang lebih masif dengan menyasar seluruh pembangkit listrik dan infrastruktur vital nasional Iran.
Info Detak.co | Selasa, 07 April 2026 
