
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah ladang gas Pars Selatan milik Iran di kawasan Teluk Persia dihantam serangan gabungan yang diduga melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
TEHERAN - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah ladang gas Pars Selatan milik Iran di kawasan Teluk Persia dihantam serangan gabungan yang diduga melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Ehsan Jahanian, Wakil Gubernur Provinsi Bushehr, mengonfirmasi bahwa proyektil musuh telah memicu kebakaran besar di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh. Sebagai informasi, Pars Selatan merupakan bagian dari cadangan gas alam terbesar di dunia yang dikelola bersama oleh Iran dan Qatar, di mana fasilitas ini memasok sekitar 70% kebutuhan gas domestik Iran. Insiden ini menambah daftar panjang serangan terhadap infrastruktur energi tersebut setelah peristiwa serupa pada perang Juni 2025.
Menanggapi kejadian ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan melalui platform Truth Social. Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak mengetahui rencana serangan spesifik yang dilakukan oleh Israel ke fasilitas Pars Selatan. Meski mengkritik tindakan sepihak sekutunya tersebut, Trump melayangkan ancaman keras kepada Teheran. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat siap meluluhlantakkan seluruh fasilitas Pars Selatan dengan kekuatan militer yang belum pernah terlihat sebelumnya jika Iran terus melakukan aksi balasan terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak bersalah, seperti Qatar.
Di sisi lain, Iran telah memulai serangan balasan yang menargetkan infrastruktur energi di beberapa negara Teluk. Di Qatar, kebakaran hebat dilaporkan terjadi di Kota Industri Ras Laffan, yang mengakibatkan kerusakan luas pada fasilitas Liquid Natural Gas (LNG) dan Pearl Gas-to-Liquids (GTL). Meskipun Kementerian Dalam Negeri Qatar mengonfirmasi tidak ada korban jiwa, pihak berwenang mengecam keras tindakan Iran yang dianggap telah melanggar batas internasional dengan menyerang infrastruktur sipil vital.
Eskalasi serangan Iran juga merembet ke Uni Emirat Arab (UEA), di mana fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab menjadi sasaran. Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan tersebut tanpa adanya korban jiwa. Namun, UEA mengutuk keras tindakan ini sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman langsung terhadap stabilitas pasar energi global. Pihak UEA menegaskan haknya untuk mengambil langkah tegas guna melindungi kedaulatan nasional mereka di tengah situasi yang semakin memanas.
Info Detak.co | Jumat, 20 Maret 2026 
