
Perusahaan energi terbesar asal Amerika Serikat, Chevron.
JAKARTA - Dua perusahaan energi terbesar asal Amerika Serikat, ExxonMobil dan Chevron, melaporkan lonjakan keuntungan drastis sepanjang kuartal II-2026. Laba fantastis ini ditopang oleh meroketnya harga minyak mentah dan bahan bakar di pasar internasional pasca pecahnya konflik bersenjata antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai kedua korporasi tersebut memegang posisi menguntungkan karena memiliki kapasitas penyulingan mandiri di tengah menyusutnya pasokan minyak mentah dunia.
"Perusahaan-perusahaan ini mencetak uang karena harga minyak melonjak di seluruh dunia... Exxon dan Chevron memiliki kilang yang beroperasi dengan sangat baik. Kami berada pada margin penyulingan tertinggi untuk bensin, bahan bakar jet, dan diesel," kata Lipow seperti dikutip dari CNN, Sabtu (8/8/2026).
Rincian Perolehan Laba Raksasa Migas
-
ExxonMobil:
-
Laba Bersih: Membukukan keuntungan USD 14,5 miliar (setara Rp259,5 triliun) pada kuartal II-2026.
-
Rata-rata Pendapatan: Mengantongi rata-rata USD 160 juta (setara Rp2,8 triliun) per hari.
-
Perbandingan: Angka ini melonjak dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi rekor pendapatan tertinggi Exxon sejak krisis energi perang Rusia-Ukraina tahun 2022.
-
-
Chevron:
-
Laba Bersih: Meraup laba bersih USD 12,1 miliar (setara Rp216,5 triliun), melesat hampir lima kali lipat dibanding capaian kuartal II tahun lalu yang mencatatkan USD 2,5 miliar.
-
Sektor Hilir (Kilang): Lini bisnis kilang minyak Chevron berbalik dari posisi rugi USD 817 juta pada tahun lalu menjadi mencetak keuntungan masif sebesar USD 4,9 miliar (setara Rp87,6 triliun).
-
-
Shell (Eropa):
-
Laba Bersih: Perusahaan multinasional yang berbasis di Eropa ini juga mencetak margin keuntungan tinggi mencapai USD 10 miliar (setara Rp178,97 triliun) pada kuartal lalu. Capaian ini menjadi laba kuartalan tertinggi kedua dalam sejarah berdiri perusahaan.
-
Dinamika Pasar Minyak dan Krisis Penyulingan Dunia
Secara kumulatif, harga minyak mentah dunia tercatat telah melonjak lebih dari 40 persen sepanjang tahun 2026 akibat gangguan rantai pasok dari Timur Tengah.
Di saat yang sama, industri energi global diperkirakan kehilangan kapasitas penyulingan (refining capacity) sekitar 6 hingga 7 juta barel per hari. Kondisi ini menempatkan kilang-kilang minyak yang terintegrasi milik Exxon, Chevron, dan Shell pada margin keuntungan maksimal untuk komoditas BBM seperti bensin, bahan bakar penerbangan (avtur), serta solar/diesel.
Info Detak.co | Minggu, 09 Agustus 2026 
