
Foto: ist
TEHERAN - Iran mengeksekusi Majid Adineh pada Minggu (23/8/2026), setelah pria tersebut dinyatakan bersalah terkait aksi protes antipemerintah yang berlangsung pada Januari. Adineh sebelumnya didakwa melakukan tindakan yang disebut menguntungkan kelompok-kelompok bermusuhan serta dituduh bertindak sebagai agen Israel dan Amerika Serikat.
Dilansir AFP, Minggu (23/8/2026), otoritas kehakiman Iran menyebut Adineh terbukti melakukan "tindakan operasional yang menguntungkan kelompok-kelompok bermusuhan" dalam gelombang demonstrasi nasional yang pecah pada akhir tahun lalu.
Adineh merupakan salah satu dari sejumlah terdakwa yang dijatuhi hukuman mati sehubungan dengan aksi tersebut. Menurut situs kehakiman Iran, Mizan Online, ia juga didakwa melakukan pembakaran secara sengaja serta berkumpul dan bersekongkol dengan tujuan melakukan kejahatan terhadap keamanan dalam negeri.
"Pengadilan Revolusioner Karaj menjatuhkan hukuman mati dan menyita seluruh hartanya berdasarkan berbagai dokumen, bukti dalam perkara, serta pernyataan terdakwa," demikian keterangan Mizan Online.
Upaya banding Adineh kemudian ditolak. Mahkamah Agung Iran menguatkan putusan tersebut dan eksekusi dilaksanakan pada Minggu pagi.
Adineh ditangkap bersama seorang tersangka lainnya pada 9 Januari di Provinsi Alborz. Saat penangkapan, aparat disebut menemukan sebuah pistol revolver beserta amunisi, dua alat kejut listrik atau taser, dua tabung gas air mata, gergaji mesin bertenaga baterai, serta sebotol bensin.
Gelombang protes tersebut bermula pada akhir Desember akibat keluhan masyarakat mengenai tingginya biaya hidup. Aksi kemudian berkembang menjadi demonstrasi antipemerintah berskala luas dan mencapai puncaknya pada 8 dan 9 Januari.
Pemerintah Iran melaporkan lebih dari 3.000 orang tewas dalam kerusuhan tersebut. Teheran juga menuding kekerasan yang terjadi sebagai bagian dari "tindakan teroris" yang didalangi Amerika Serikat dan Israel.
Iran diketahui meningkatkan pelaksanaan eksekusi sejak perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari. Konflik tersebut bermula setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Info Detak.co | Senin, 24 Agustus 2026 
