
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan pihaknya menghargai kesiapan Indonesia untuk memediasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
JAKARTA - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan pihaknya menghargai kesiapan Indonesia untuk memediasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada ruang negosiasi dengan pihak yang dinilai telah melakukan tindakan permusuhan terhadap negaranya.
Dalam konferensi pers usai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, Boroujerdi menyebut tidak ada jaminan bahwa AS akan mematuhi kesepakatan apa pun. Menurutnya, dalam situasi saat ini, mediasi bukan lagi solusi yang relevan.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog jika dibutuhkan. Pernyataan itu juga disampaikan melalui akun resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan de-eskalasi.
Sejumlah pakar menilai langkah Indonesia menghadapi tantangan besar. Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menyebut posisi Indonesia tidak setara dengan AS dalam konteks negosiasi tersebut. Pandangan serupa disampaikan M. Waffa Kharisma dari Centre for Strategic and International Studies yang menilai Indonesia tidak memiliki daya tawar signifikan dalam konflik yang masih sangat eskalatif.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Yusli Effendi, menilai fokus utama Indonesia seharusnya pada perlindungan kepentingan nasional, termasuk mengantisipasi lonjakan harga minyak apabila jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu. Ia mengingatkan dampaknya bisa berimbas pada subsidi energi dan defisit anggaran.
Di sisi lain, pakar juga menyoroti dilema diplomatik Indonesia. Sikap yang terlalu eksplisit berpotensi menimbulkan persepsi keberpihakan, sementara netralitas pasif juga bisa berdampak pada kredibilitas Indonesia di mata mitra global, baik Barat maupun negara-negara seperti Iran dan anggota BRICS+.
Sementara itu, konflik terus berlanjut. Iran menyatakan melakukan serangan balasan terhadap Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut akan melancarkan operasi ofensif besar, sedangkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya akan terus mengambil tindakan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh.
Info Detak.co | Rabu, 04 Maret 2026 
