Korut Kecam Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS, Sebut Pelanggaran Kedaulatan Serius
Korea Utara (Korut) melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat (AS) atas penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

PYONGYANG – Korea Utara (Korut) melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat (AS) atas penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Pyongyang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan negara yang sangat serius.

Mengutip AFP, Minggu (4/1/2026), Kementerian Luar Negeri Korut menyatakan bahwa langkah AS itu merupakan upaya hegemoni terhadap Venezuela. Dalam pernyataan resmi yang dimuat media pemerintah Korut, KCNA, juru bicara Kemenlu Korut menegaskan kecaman tersebut.

"Insiden ini adalah contoh lain yang dengan jelas menegaskan sekali lagi sifat jahat dan brutal AS," ujar juru bicara kementerian dalam pernyataannya.

Usai ditangkap, Maduro bersama istrinya diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkoba dan senjata. Keduanya ditangkap oleh pasukan khusus AS dalam sebuah operasi militer yang digelar pada Sabtu (3/1) dini hari di Caracas.

Selama puluhan tahun, Pyongyang kerap menyatakan bahwa program nuklir dan persenjataannya ditujukan sebagai langkah pencegahan terhadap upaya perubahan rezim oleh AS. Korut juga dikenal sebagai salah satu pendukung kuat pemerintahan sosialis Maduro di Venezuela.

Korut menilai penangkapan dan penggulingan Maduro sebagai tindakan ceroboh yang melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta hukum internasional. Menurut Pyongyang, AS telah mengabaikan prinsip-prinsip utama Piagam PBB, seperti penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan keutuhan wilayah negara lain.

"Suara protes dan kecaman yang semestinya terhadap pelanggaran kedaulatan negara lain yang telah menjadi kebiasaan AS," demikian pernyataan Korut.