
Pertemuan tatap muka antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing (14/5/2026),
JAKARTA - Pertemuan tatap muka antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing (14/5/2026) dinilai lebih menonjolkan aspek diplomasi simbolis ketimbang menghasilkan terobosan kebijakan yang substantif. Analisis ini disampaikan oleh Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Asra Virgianita, pada Jumat (15/5/2026).
Menurut Asra, kedua pemimpin negara memiliki kepentingan pencitraan politik masing-masing di balik kemegahan upacara penyambutan di Aula Besar Rakyat tersebut:
-
Kepentingan Beijing (Xi Jinping): Menampilkan narasi kepada publik domestik dan global bahwa China diakui oleh AS sebagai mitra strategis yang setara dan kekuatan besar yang tidak bisa diabaikan. Pernyataan Xi bahwa kedua negara harus menjadi "mitra bukan rival" merupakan strategi untuk menggeser stigma rivalitas dan membangun citra China sebagai aktor global yang konstruktif.
-
Kepentingan Washington (Donald Trump): Memanfaatkan pertemuan ini sebagai panggung politik domestik demi mengukuhkan citranya sebagai seorang deal maker ulung yang mampu bernegosiasi dengan rival utamanya. Momentum ini dinilai sangat krusial bagi Trump untuk mendulang poin politik menjelang Pemilu AS pada Oktober mendatang.
Dimensi Ekonomi dan Tekanan Geopolitik
Meskipun minim keputusan strategis untuk mengatasi masalah global saat ini, pertemuan tersebut tetap membawa misi terselubung, di antaranya:
-
Pemanfaatan Leverage Terhadap Iran: Trump memuji Xi dengan harapan bisa melunasi agenda luar negerinya terkait konflik di Timur Tengah. Mengingat China adalah importir minyak terbesar dari wilayah tersebut, Trump mendesak Xi menggunakan pengaruhnya untuk menekan Iran agar menghentikan blokade di Selat Hormuz.
-
Diplomasi Korporasi Teknologi: Kehadiran para raksasa teknologi AS seperti Elon Musk, Jensen Huang, dan Tim Cook dalam rombongan menegaskan bahwa sektor ekonomi dan rantai pasok teknologi canggih tetap menjadi komoditas utama dalam proses tawar-menawar bilateral.
"Pertemuan ini lebih berfungsi sebagai 'panggung' simbolis dan upaya memastikan rivalitas kedua negara berdampak terbatas atau terkontrol, alih-alih sebagai pertemuan yang menghasilkan keputusan strategis bagi permasalahan global hari ini," papar Asra Virgianita.
Kunjungan kepresidenan pertama AS ke China dalam satu dekade terakhir ini ditutup dengan pernyataan optimistis dari kedua belah pihak mengenai "masa depan yang fantastis bersama". Namun, para pengamat menilai hubungan kedua negara ke depan akan tetap berada dalam koridor rivalitas yang dikelola (managed competition) demi menjaga stabilitas pasar ekonomi global.
Info Detak.co | Sabtu, 16 Mei 2026 
