Penembakan Massal di SMA Filipina, 3 Siswa Tewas dan 8 Terluka
Police investigators gathering evidence after a mass shooting in the southern Philippines that left at least three people dead on Sept 18. PHOTO: AFP

MANILA - Penembakan massal terjadi di SMA Nasional Banga, Kota Banga, Provinsi Cotabato Selatan, Filipina, Jumat (18/9/2026). Sedikitnya tiga siswa tewas dan delapan lainnya terluka dalam insiden tersebut.

Salah satu korban tewas merupakan pelaku penembakan. Pelaku diketahui berusia 16 tahun dan tercatat sebagai siswa kelas IX.

Wali Kota Banga Albert Palencia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pelaku sempat memperingatkan teman-temannya untuk pulang sebelum menjalankan aksinya. Ia disebut mengatakan akan melakukan penembakan setelah jam makan siang.

Namun, peringatan tersebut tidak dianggap serius oleh teman-temannya dan justru direspons dengan gurauan.

"Setelah makan siang, dia mulai menembak para murid. Dia menembak 10 murid sebelum membunuh dirinya sendiri," ujar Palencia, seperti dikutip BBC.

Palang Merah Filipina menerima laporan mengenai penembakan tersebut sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Ambulans dan personel medis kemudian dikerahkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan kepada para korban.

Kepolisian juga segera mendatangi sekolah dan melakukan penyelidikan terkait penembakan tersebut.

Pasca-insiden, kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah di Kota Banga ditangguhkan. Departemen Pendidikan Filipina menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut.

Departemen Pendidikan menyebut keselamatan dan kesejahteraan siswa, guru, serta seluruh personel sekolah menjadi prioritas setelah insiden penembakan terjadi.

"Prioritas langsung kami adalah keselamatan dan kesejahteraan para peserta didik, guru, dan personel sekolah kami," kata Departemen Pendidikan Filipina.

Mereka juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi selama proses penyelidikan masih berlangsung.

"Kami mendesak semua orang untuk tetap tenang dan menahan diri dari membagikan informasi yang tidak terverifikasi saat pihak berwenang melanjutkan penyelidikan mereka," ujarnya.

Gubernur Cotabato Selatan Reynaldo Tamayo turut mengingatkan masyarakat yang memiliki senjata api agar memperketat penyimpanannya. Ia meminta senjata dipastikan tidak dapat diakses oleh anak-anak atau pihak yang belum cukup umur.

Menurut Tamayo, pengawasan terhadap lingkungan sekolah membutuhkan kerja sama seluruh pihak, bukan hanya mengandalkan petugas keamanan.

"Kita tidak bisa mengharapkan segelintir petugas keamanan untuk memantau ribuan siswa. Kita perlu bekerja sama karena jika tidak ini akan sangat sulit bagi kita untuk ditangani," kata Tamayo