Pidato Presiden Iran Pezeshkian di PBB Singgung Trump, Delegasi AS Pilih Walk Out
Iranian President Masoud Pezeshkian speaks during the 81st United Nations General Assembly, at the United Nations Headquarters in New York, on September 23, 2026. TIMOTHY A. CLARY / AFP

NEW YORK - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9/2026). Pidato tersebut diwarnai aksi walk out dari satu-satunya perwakilan Amerika Serikat (AS) yang berada di ruang sidang.

Beberapa menit setelah Pezeshkian memulai pidatonya, delegasi AS berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruangan.

Pezeshkian mengawali pidatonya dengan menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam forum yang sama sehari sebelumnya. Ia membantah tudingan yang diarahkan kepada Iran.

"Presiden Amerika Serikat menyebut kami sebagai teroris. Padahal, kamilah yang menjadi korban terorisme," kata Pezeshkian.

Dalam pidatonya, Pezeshkian kemudian menyinggung sejumlah peristiwa yang disebutnya terjadi selama konflik antara Iran, AS, dan Israel.

Ia antara lain menyebut kematian mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta serangan terhadap sebuah sekolah pada hari pertama perang yang menurutnya menewaskan 156 orang.

Pezeshkian juga menyinggung serangan terhadap sebuah gedung olahraga pada hari yang sama. Menurut dia, serangan tersebut menggunakan senjata dengan hulu ledak ganda dan menyebabkan korban dari kalangan ilmuwan serta warga sipil Iran.

"Amerika Serikat menargetkan gedung olahraga tersebut menggunakan senjata dengan hulu ledak ganda. Mereka membunuh para ilmuwan kami, serta warga kami--baik pria, wanita, maupun anak-anak. Anak-anak tak berdosa yang sesungguhnya tidak melakukan kejahatan ataupun dosa apa pun," ujar Pezeshkian.

Tak lama setelah pernyataan tersebut disampaikan, delegasi AS yang berada di ruang sidang berdiri dan meninggalkan tempat.

Pernyataan Trump Sehari Sebelumnya

Aksi tersebut terjadi sehari setelah Trump menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum PBB. Dalam pidatonya, Trump mengatakan dirinya menghadapi pilihan besar terkait Iran.

Trump menggambarkan pilihan tersebut sebagai upaya mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan yang lebih keras terhadap negara tersebut.

"Akankah kesepakatan dicapai dengan Iran yang memungkinkan mereka bangkit kembali dan membangun negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya-mungkin salah satu yang terhebat di Timur Tengah atau bahkan di dunia?" kata Trump.

Trump kemudian menyampaikan opsi lainnya terkait konflik dengan Iran.

"Atau haruskah saya menghancurkan Republik Islam itu dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara lagi?" ujarnya.

Pernyataan kedua pemimpin tersebut mencerminkan perbedaan sikap antara Washington dan Teheran dalam merespons konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel