.jpeg)
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meluapkan kemarahannya terhadap narasi dari beberapa kelompok domestik maupun internasional yang mengeklaim bahwa "AS telah kalah dalam konfrontasi militer melawan Iran". Trump dengan tegas melabeli pihak-pihak di dalam negerinya yang menyebarkan sentimen kekalahan tersebut sebagai aktor "pengkhianat" negara.
Pernyataan ofensif Trump ini merupakan respons langsung atas pidato Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menyebut militer AS telah menerima kekalahan memalukan pasca-pengerahan kekuatan armada tempur besar-besaran di kawasan Teluk dalam dua bulan terakhir.
Kemunculan Pertama Mojtaba Khamenei Pasca-Serangan AS-Israel
Pesan politik dari Mojtaba Khamenei disiarkan secara virtual lewat televisi pemerintah Iran bertepatan dengan perayaan nasional Hari Teluk Persia. Ini menjadi pernyataan publik perdananya sejak ia ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas akibat operasi militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Dalam pidatonya, Khamenei muda—yang sempat dikabarkan terluka parah namun tetap memiliki ketajaman berpikir—melayangkan beberapa poin propaganda:
-
Kerapuhan Pangkalan AS: Mengklaim bahwa pangkalan militer AS di Timur Tengah saat ini bahkan tidak sanggup melindungi keamanan unit mereka sendiri, apalagi menjadi pelindung bagi negara-negara sekutunya.
-
Otoritas Selat Hormuz: Memuji sistem penataan hukum dan blokade baru pertahanan Iran di Selat Hormuz yang sukses membatasi lalu lintas kapal-kapal pengangkut energi barat sebagai bukti kontrol penuh Teheran atas jalur logistik strategis tersebut.
Pembelaan Trump: Hancurkan Angkatan Laut Iran
Berbicara di hadapan massanya di The Villages, Florida, Presiden Donald Trump membantah keras seluruh klaim Teheran dan menuduh kelompok kiri radikal di AS ikut menunggangi isu kekalahan ini demi kepentingan politik elektoral.
Trump menegaskan bahwa militer AS di bawah komandonya telah berhasil melumpuhkan kekuatan tempur Angkatan Laut Iran secara signifikan, serta menerapkan sistem blokade pelabuhan yang diklaimnya berjalan dengan jenius. Meski demikian, Trump mengakui dirinya enggan mendeklarasikan kemenangan total terlalu dini ke ruang publik sebelum seluruh misi militer di Iran benar-benar tuntas seratus persen.
"Kita mendapat pernyataan dari kelompok kiri radikal, 'Kita tidak menang, kita tidak menang.' Mereka tidak memiliki kekuatan militer lagi. Sebenarnya, saya percaya itu adalah pengkhianatan. Anda ingin tahu yang sebenarnya — itu adalah pengkhianatan," tegas Trump dalam pidatonya.
Info Detak.co | Rabu, 10 Juni 2026 
