
Aksi unjuk rasa di depan kantor Perumda Dharma Jaya, Cakung, Jakarta Timur, pada Senin, 9 Februari 2026, menuai sorotan. | Foto: Bayu
JAKARTA – Aksi unjuk rasa di depan kantor Perumda Dharma Jaya, Cakung, Jakarta Timur, pada Senin, 9 Februari 2026, menuai sorotan. Selain dinilai mengganggu ketertiban umum dan minim substansi, aksi tersebut juga memunculkan tanda tanya terkait afiliasi gerakan setelah koordinator aksi dinilai menghindari pertanyaan mengenai lembaga Lentera Muda Indonesia yang mereka representasikan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, massa aksi menyampaikan sejumlah tuntutan melalui orasi dengan pengeras suara. Namun, tuntutan yang disuarakan cenderung tendensius, subyektif, dan tidak disertai penjelasan berbasis data maupun kronologi persoalan yang jelas. Narasi yang dibangun lebih bersifat tudingan umum tanpa menunjukkan bukti konkret.
Kecurigaan publik semakin menguat ketika koordinator aksi mendapat pertanyaan langsung dari sejumlah pihak mengenai lokasi kantor Lentera dan sosok di balik lembaga tersebut. Alih-alih memberikan jawaban, koordinator aksi justru mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan tersebut secara spesifik.
Saat ditanya di mana kantor Lentera, Akbar, koordinator aksi yang juga mengaku mahasiswa ini justru mengalihkan pembicaraan tentang organisasinya yang ingin menyuarakan aspirasi masyarakat.
“Kami dari organisasi ingin melihat kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu kami membentuk organisasi ini sebagai lembaga untuk menyuarakan suara rakyat yang tidak mampu disuarakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, wajar kalau publik meragukan kemurnian gerakan dan mempertanyakan siapa sebenarnya yang diwakili dan apa kepentingannya.
Momen pengalihan pembicaraan tersebut terlihat jelas. Koordinator aksi tampak menghindari penjelasan mengenai keterkaitan tuntutan dengan pihak yang disebutkan, dan memilih kembali mengangkat isu yang tidak berkaitan langsung dengan pertanyaan yang diajukan.
Sejumlah pihak menilai sikap tersebut semakin melemahkan legitimasi gerakan. Aksi yang seharusnya menjadi sarana penyampaian aspirasi justru dinilai tidak transparan dan membuka ruang spekulasi adanya agenda tersembunyi atau kepentingan tertentu di balik gerakan massa.
Info Detak.co | Selasa, 10 Februari 2026 
