Harga Cabai Rawit Merah Melonjak di Jakarta, Ini Biang Keroknya
Ilustrasi | Foto: istimewa

JAKARTA - Harga cabai rawit merah mengalami peningkatan di sejumlah daerah, termasuk DKI Jakarta. Kenaikan tersebut tercatat pada tingkat grosir maupun eceran, baik jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya maupun bulan sebelumnya.

Berdasarkan laporan perkembangan harga dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, harga cabai rawit merah di tingkat grosir naik 26,22 persen secara antarminggu. Harga komoditas tersebut meningkat Rp10.714 menjadi Rp51.571 per kilogram.

Sementara itu, harga di tingkat eceran mengalami kenaikan 8,13 persen atau Rp4.919 menjadi Rp65.426 per kilogram.

Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kenaikan juga terjadi di kedua tingkat perdagangan. Harga grosir meningkat 30,56 persen menjadi Rp41.686 per kilogram, sedangkan harga eceran naik 3,03 persen menjadi Rp60.153 per kilogram.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, kenaikan harga cabai rawit merah dipengaruhi sejumlah faktor yang terjadi di berbagai wilayah. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah berkurangnya luas tanam cabai rawit merah pada periode Februari hingga Juli 2026.

Menurutnya, luas tanam pada periode tersebut turun 14 persen. Kondisi itu kemudian berdampak terhadap produksi cabai yang diperkirakan menurun pada Agustus hingga Desember 2026.

Penurunan produksi turut berpengaruh terhadap pasokan cabai di Jakarta. Hasudungan menyebut pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada pekan kelima Agustus 2026 turun 10,4 persen, dari 144 ton menjadi 129 ton.

“Hal tersebut berimbas pada pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada minggu kelima Agustus 2026 yang turun 10,4 persen, dari 144 ton menjadi 129 ton,” kata Hasudungan, Selasa (8/9).

Selain berkurangnya luas tanam, kondisi puncak musim kemarau juga menjadi salah satu penyebab menurunnya produktivitas tanaman cabai. Keterbatasan air membuat pertumbuhan tanaman terhambat, sementara bunga lebih mudah rontok dan perkembangan buah menjadi tidak maksimal.

Gangguan produksi juga diperparah dengan serangan sejumlah organisme pengganggu tanaman, seperti kutu kebul, thrips, tungau, dan ulat.

Dari sisi biaya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut memberikan tekanan terhadap harga cabai. Peningkatan biaya operasional produksi dan distribusi menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

“Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak turut memicu peningkatan biaya operasional produksi dan distribusi pangan,” ujar Hasudungan.

Untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya melalui pengembangan pertanian perkotaan untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di wilayah Jakarta.

Sepanjang 2026, lahan pertanian perkotaan yang ditanami cabai rawit merah tercatat mencapai 11,46 hektare dengan total hasil panen sebanyak 45,59 ton.

Dinas KPKP DKI Jakarta juga mendorong pemanfaatan cabai melalui pelatihan diversifikasi produk olahan cabai dan bawang yang dilaksanakan di seluruh kota dan kabupaten administrasi.

Upaya menjaga akses masyarakat terhadap cabai dengan harga terjangkau turut dilakukan melalui kegiatan pangan murah keliling. Dalam program tersebut, Pemprov DKI Jakarta melalui Perumda Pasar Jaya menyediakan cabai rawit merah bagi masyarakat.

“Pemprov DKI melalui Perumda Pasar Jaya turut menyediakan komoditas cabai rawit merah dalam kegiatan pangan murah keliling untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses pangan dengan harga terjangkau,” tandas Hasudungan.