Ini Langkah Pemprov DKI Antisipasi Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
Foto: Nugroho Sejati

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi potensi dampak sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Upaya mitigasi dilakukan melalui operasi water mist skala besar dan penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh sekolah di Jakarta.

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Uus Kuswanto, mengatakan Pemprov DKI Jakarta terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sekaligus memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

“Warga Jakarta diimbau tetap tenang. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta siap memberikan layanan terbaik dan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi,” ujar Uus saat konferensi pers di Monas, Minggu (6/9).

Sebagai bagian dari mitigasi, Pemprov DKI Jakarta menggelar operasi water mist skala besar yang dimulai pada Minggu (6/9) sekitar pukul 16.00. Operasi tersebut melibatkan sekitar 30–40 armada dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut).

“Penyemprotan ini bertujuan mengikat partikel debu dan abu vulkanik di udara. Operasi water mist akan dilaksanakan secara rutin dua kali sehari, pagi dan sore, hingga kondisi udara dinyatakan membaik,” jelas Uus.

Operasi water mist tingkat provinsi difokuskan pada sejumlah ruas jalan utama di lima wilayah kota administrasi. Di Jakarta Pusat, penyemprotan dilakukan di ruas Jalan Sudirman–MH Thamrin. Jakarta Utara mencakup Jalan Yos Sudarso hingga Terminal Tanjung Priok serta kawasan Pluit.

Sementara itu, wilayah Jakarta Pusat meliputi Jalan Cempaka Putih hingga Gunung Sahari, sedangkan Jakarta Timur difokuskan di Jalan Pramuka, UKI, hingga Terminal Kampung Melayu. Di Jakarta Selatan, operasi dilakukan di Jalan Rasuna Said, mulai dari kawasan depan KPK hingga Gatot Subroto. Adapun di Jakarta Barat mencakup Jalan S. Parman, Daan Mogot, dan Tomang.

Selain menjaga kualitas udara, Pemprov DKI Jakarta juga menerapkan langkah mitigasi di sektor pendidikan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menetapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh sekolah di Jakarta mulai Senin (7/9).

“Pembelajaran tatap muka akan diterapkan kembali setelah tidak ada lagi abu vulkanik atau dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau selesai,” ujar Uus.

Pemprov DKI Jakarta mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak panik, dan meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan sejumlah langkah perlindungan diri. Warga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak, serta menutup pintu dan jendela untuk meminimalkan masuknya abu vulkanik ke dalam rumah.

Pemilik gedung yang memiliki fasilitas water mist juga diimbau untuk turut mengoperasikan fasilitas tersebut secara mandiri sebagai bagian dari upaya bersama menjaga kualitas udara di Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta juga terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memperoleh dan memantau perkembangan data secara aktual.

Bagi masyarakat yang mengalami kondisi darurat medis atau membutuhkan bantuan segera, dapat menghubungi layanan Jakarta Siaga 112 atau mendatangi fasilitas kesehatan terdekat yang tetap bersiaga selama 24 jam.

“Pemerintah tetap siaga. Kami meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dari kanal pemerintah dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi,” tandas Uus.