
Dalam rangka memperingati International Tiger Day alias Hari Harimau Sedunia, Gerakan Rakyat menyelenggarakan "Forum & Art Exhibition International Tiger Day" dengan tema "Menjaga Harimau, Menjaga Masa Depan Indonesia" di Kantor Sekretariat DPP, Ampera, Jakarta Selatan, Rabu (29/7/2026).
Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid mengungkapkan acara tersebut memadukan diskusi publik dan pameran seni lukis guna bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian harimau serta habitat hutan di Indonesia.
"Alhamdulilah pada tanggal 29 Juli tahun 2026 ini bertepatan dengan International Tiger Day. Jadi ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi kita untuk kembali melakukan, membaca situasi bahwa apa yang terjadi saat ini terkait dengan satwa yang perlu kita jaga," ujar Sahrin.
Sahrin menyoroti posisi strategis harimau sebagai predator puncak dan spesies payung dalam ekosistem hutan. Keberadaannya kini menghadapi ancaman nyata, mulai dari kematian tragis hingga dugaan penyimpangan pengelolaan.
"Jadi ini sangat luar biasa artinya bahwa keberadaan harimau sebagai puncak predator, pemangsa utama, maka ia disebut sebagai raja hutan, tidak ada harimau sebagai objek yang dimangsa dia adalah pemangsa utama, namun akhir-akhir kita melihat membaca berita ada di satu daerah di mana harus meninggal," jelasnya.
"Ada juga makanannya, ternyata oleh pengelolanya dikorupsi. Ada juga yang dibiarkan kering kerontang. Nah, ekspresi kepedulian kita terhadap satwa tersebut, karena keberadaannya adalah untuk membangun keseimbangan, keberadaannya untuk membangun kelestarian, maka forum ini kita gelar," tambah Sahrin.
Sementara itu, mewakili Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Staf Ahli Bidang Kelestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya, Noer Adi Wardojo menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi seni dan ruang diskusi rasional yang digagas oleh Gerakan Rakyat.
"Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada DPP Gerakan Rakyat atas inisiatif cerdas mengalihkan forum diskusi dengan eksibisi seni. Ini kombinasi yang luar biasa, karena seni memiliki bahasa universal, mampu mengetuk kesadaran terdalam, bicara dari hati ke hati. Sementara diskusi itu mencerdaskan rasional kita, pemikiran kita yang dipasang," ucap Noer.
Dalam paparannya, Noer membeberkan data serta ancaman nyata terhadap populasi Harimau Sumatera saat ini, mulai dari fragmentasi lahan, perburuan liar, hingga masalah genetika akibat populasi menyusut.
"Nah sebagai pemangsa puncak apex predator Harimau Sumatera tidak hanya menjaga keseimbangan rantai makanan. Keberadaannya juga menandakan bahwa ekosistem hutan kita masih utuh, air kita masih bersih, karbon dunia masih tersimpan dengan baik di hutan-hutan kita. Ketika harimau terdesak dan punah itu adalah sinyal alam yang nyata bahwa rumah kita hutan Indonesia sedang dalam bahaya yang kritis. Kita harus paham itu," tuturnya.
"Hari ini kita jujur melihat data populasi di alam liar, Harimau Sumatera berada pada angka yang kritis, kurang dari 600 individu. Sehingga status di IUCN adalah critically endangered. Ini alarm bagi kita untuk menjaga Harimau kita. Rumah mereka terfragmentasi oleh konversi lahan untuk konstruksi jalan, berbagai konsesi, perkebunan, pertambangan dan lain-lain. Dan lebih memprihatinkan lagi terdapat jaringan kesehatan terorganisir yang masih terus mengintai perdagangan organ Harimau, illegal wildlife trade itu masih ada. Hanya demi keuntungan secara bisnis tetapi mengorbankan Harimau, mengorbankan alam kita," lanjut Noer.
Noer pun menyatakan komitmen serta pembagian peran teknis antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam menjaga kawasan konservasi, ruang lingkup hukum, dan persetujuan lingkungan.
"Pemerintah tidak tinggal diam. Kita bersama-sama melindungi Harimau Sumatera. Kerja-kerja besar menyelamatkan Harimau Sumatera membutuhkan kita semua. Tidak hanya pemerintah tetapi berbagai pihak termasuk masyarakat yang berada di sekitar habitat Harimau Sumatera. Mereka adalah ujung depan," paparnya.
Terkait forum diskusinya sendiri, Gerakan Rakyat menghadirkan sejumlah pakar serta aktivis lingkungan ternama sebagai narasumber, meliputi Co-Founder Partai Hijau Indonesia, John Muhammad, Representative Lampung Forum HarimauKita, Sugeng Dwi Hastono, dan Climate & Global Issues Campaigner WALHI Nasional, Patria Rizky Ananda.
Para narasumber sepakat bahwa upaya konservasi Harimau Sumatera tidak bisa lepas dari evaluasi menyeluruh terhadap izin-izin industri ekstraktif dan penataan ulang kebijakan ekonomi nasional. Perlindungan habitat satwa kunci dan jaminan ruang hidup bagi masyarakat lokal seperti petani harus menjadi prioritas utama pemerintah dalam menghentikan laju kepunahan Harimau Sumatera.
Info Detak.co | Kamis, 30 Juli 2026 
